Opini  

Kemana BRICS Saat Iran Diserang Israel-AS?

Bendera anggota BRICS. (Dok. BRICS)
Bendera anggota BRICS. (Dok. BRICS)

OPINI – Dulu ada narasi begini, “Yang bisa nyaingi Amerika itu hanya BRICS!” Saat perang Iran vs Israel-AS, kemana poros baru dunia itu? Yok kita kupas sambil seruput Koptagul, wak!

BRICS itu ibarat sebuah orkestra raksasa. Tahun 2025 mereka tampil seperti simfoni kiamat. Kompak, lantang, penuh tenaga. Lalu, menyebut serangan ke Iran sebagai pelanggaran hukum internasional dan Piagam PBB. Dunia menoleh. Barat mengernyit. BRICS terlihat seperti penantang serius tatanan global.

Baca Juga: Selat Hormuz, Senjata Pamungkas Iran

Lalu 2026 datang… dan orkestra itu mendadak fals.

Saat ini BRICS memiliki 11 anggota resmi: Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Indonesia, Iran, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi. Dulu cuma lima, hanya Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Lalu, ekspansi 2024–2025 membuatnya membengkak seperti koper overbagasi.

Secara teori? Ini monster global. Lebih dari 40% populasi dunia, cadangan energi berlimpah, dan ambisi jadi alternatif G7. Bahkan, Indonesia masuk awal 2025, membawa harapan Asia Tenggara ikut duduk di meja besar. Tapi teori sering kali seindah brosur travel, realita? Kadang zonk.

Begitu perang Iran meledak lagi, BRICS seperti grup WA yang read doang. Tidak ada pernyataan kolektif sekeras 2025. Tidak ada respons cepat. Semua seperti menunggu siapa yang berani duluan… dan ternyata, tidak semua mau bayar harga keberanian.

Masuk ke akar masalah. BRICS bukan NATO. Tidak ada traktat, tidak ada sekretariat permanen, tidak ada “kalau satu diserang, semua turun tangan.” Ini forum longgar, lebih mirip klub diskusi elite dari pada pasukan tempur diplomatik.

Di 2026, ketuanya adalah India. Di sinilah drama berubah jadi komedi satir tingkat dewa. India, dipimpin Narendra Modi, memainkan jurus “jaga semua pintu tetap terbuka.” Mereka mengakui situasi memburuk, menyebut hampir 10 juta warga India di Teluk, jalur energi vital, bahkan korban jiwa. Tapi kecaman keras? Nihil. Kalimatnya aman seperti status LinkedIn.

Kenapa? Karena India sedang dalam fase “banyak yang harus dijaga.” Beberapa hari sebelum konflik, Modi ke Israel bertemu Benjamin Netanyahu, meng-upgrade hubungan jadi special strategic partnership. AI, pertahanan, energi nuklir sipil, semua disikat.

Di saat yang sama, hubungan dengan Amerika Serikat juga dipoles. Kesepakatan dagang baru, tarif dipangkas, kerja sama pertahanan 10 tahun, bahkan komitmen mengurangi impor energi dari Rusia. Ketika Iran diserang, India itu seperti orang yang lagi bawa 11 gelas kopi panas, satu goyang, semua tumpah.