Opini  

Imbas Perang, Dubai Sepi, Burj Khalifa Sendirian

Burj Khalifa
Burj Khalifa. (Dok. Ist)

Sungguh menyayat hati. Kota yang dibangun untuk melarikan diri dari kegilaan dunia justru menjadi korban kegilaan yang sama. Fondasi yang dibangun di atas ilusi keamanan dan kekayaan tak terbatas kini retak, goyah, dan siap runtuh. Pariwisata yang menjadi napasnya terengah-engah, real estate yang dulu melambung kini jatuh bebas, dan citra “surga dunia” yang dijual mahal-mahal hancur hanya karena beberapa rudal yang menembus pertahanan.

Yang paling menyedihkan adalah jika perang ini tak kunjung berakhir. Setiap hari yang berlalu tanpa perdamaian berarti ribuan jiwa lagi yang takkan pernah kembali. Kepercayaan yang hilang tak mudah dibangun ulang. Dubai, ratu pesta dunia yang dulu berkilauan dengan 95,2 juta mimpi yang melintas setiap tahun, bisa saja berubah menjadi ratu yang ditinggalkan sendirian di tengah pesta. Lampu masih menyala redup, musik masih berputar pelan, tapi tak ada lagi yang menari. Hanya kesunyian yang pilu dan angin gurun yang membawa tangis abadi.

Baca Juga: Selat Hormuz, Senjata Pamungkas Iran

Kita semua harus merasa khawatir, sangat khawatir. Karena jika kota impian seperti Dubai saja bisa tenggelam dalam tragedi ini, di mana lagi manusia bisa berlindung dari kegelapan perang yang tak pernah puas?

“Ngeri juga ya, Bang. Itu sebabnya saya tak mau sombong. Kemewahan yang diberikan, begitu ditarik Tuhan, dalam sekejab hilang.”

“Ah, macam ente, kemewahan apa mau disombongkan, wak. Ngopi aja cari gratisan.” Ups

Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.