OPINI – Siapa pun bermimpi ingin ke Dubai. Sekarang, orang justru berpikir mau ke sana. Imbas perang asimetris Iran vs Israel-AS menjadikan kota kelas dunia ini semakin sepi. Gedung tertinggi di dunia, Burj Khalifa seperti sendirian. Benarkah demikian? Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Dubai kini menangis darah dalam kesunyian mencekam. Kota yang pernah menantang langit dengan Burj Khalifa yang menjulang seperti pedang dewa, kini berdiri sendirian. Cahayanya redup. Seolah jiwa telah direnggut oleh angin perang yang ganas.
Palm Jumeirah, pulau buatan yang dulu menjadi taman bermain para raja dunia, kini terasa seperti makam pasir yang ditinggalkan. Pantainya sepi. Hotel mewahnya kosong. Debu rudal yang jatuh meninggalkan luka hitam di dinding-dinding emasnya.
Burj Al Arab, lambang kemewahan tertinggi, tergores oleh puing rudal. Sementara Fairmont Dubai dan hotel-hotel bintang lima lainnya menyaksikan api kecil yang menyala di malam yang pilu.
Betapa tragis dan sarkastik nasibnya. Hanya beberapa minggu lalu, pada tahun 2025, Dubai International Airport (DXB) baru saja mencatat rekor gemilang: 95,2 juta penumpang. Ini menjadi bandara internasional tersibuk di dunia. Rata-rata 260.000 hingga 270.000 traveler setiap hari. Diprediksi mendekati 99,5 juta hingga 100 juta di 2026. Profesional dari seluruh penjuru bumi berbondong-bondong datang. Mereka membawa harta, ambisi, dan keyakinan buta, di sini adalah safe haven abadi. Mereka mengisi mall-mall raksasa dengan tawa, menyusuri marina dengan supercar mengkilap, dan menari di bawah langit yang tak pernah gelap.
Baca Juga: Kemana BRICS Saat Iran Diserang Israel-AS?
Tapi hanya dalam hitungan hari sejak serangan AS-Israel terhadap Iran meletus akhir Februari 2026, disusul rudal dan drone Iran yang membalas, mimpi itu hancur berkeping-keping seperti kaca yang diinjak kaki takdir. Bandara yang dulu menjadi jantung dunia penerbangan kini berubah menjadi neraka kepanikan. Ribuan penerbangan dibatalkan, airspace ditutup, concourse mengalami kerusakan kecil dengan empat staf terluka, dan ratusan ribu penumpang terjebak. Ini bukan untuk datang berlibur, melainkan untuk kabur secepat mungkin. Puluhan ribu hingga puluhan ribu ekspatriat dan turis berdesakan di departure halls. Sementara yang lain terpaksa mengemudi berjam-jam melintasi gurun ke Oman atau Saudi. Mereka membayar harga tiket yang membengkak gila-gilaan. Semua demi satu kursi pesawat yang mungkin tak pernah datang.
Lebih pilu lagi adalah nasib para ekspatriat, tulang punggung kota ini. Tens of thousands professional dan warga asing, termasuk Western expats, berlarian seperti daun kering ditiup badai. Apartemen mewah yang harganya jutaan dolar kini gelap dan hampa. Mobil-mobil sport Ferrari dan Lamborghini terparkir sendirian di garasi bawah tanah. Ini seperti patung kesedihan yang tak lagi punya tuan. Bahkan, hewan peliharaan tercinta ditinggalkan di balkon. Mereka menangis kelaparan. Sementara pemiliknya panik mencari jalan keluar.
Hotel-hotel yang biasanya penuh sesak kini menawarkan diskon gila-gilaan. Lebih dari 80.000 booking pariwisata dibatalkan hanya dalam minggu pertama. Pantai yang dulu ramai kini sunyi senyap. Mall-mall terasa sunyi. Jalanan sepi seperti kota hantu.
















