Dua Jurnalis Lebanon Tewas Akibat Serangan Rudal Israel di Wilayah Selatan

Kendaraan hancur yang diyakini membawa dua jurnalis Lebanon yang tewas akibat serangan rudal Israel di Lebanon Selatan.
Kendaraan hancur yang diduga membawa dua jurnalis Lebanon yang tewas akibat serangan rudal Israel di Lebanon Selatan. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Dua jurnalis Lebanon, Ali Shoeib dari Al-Manar TV dan Fatima Ftouni dari Al-Mayadeen, tewas dalam serangan rudal Israel di Lebanon Selatan baru-baru ini. Serangan langsung tersebut menghantam wilayah perbatasan saat kedua jurnalis sedang meliput eskalasi konflik di daerah tersebut.

Serangan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di sepanjang perbatasan Lebanon-Israel, yang sering kali menempatkan para reporter di garis depan pertempuran. Kematian tragis ini menambah daftar panjang jurnalis yang tewas dalam liputan konflik di wilayah tersebut.

Baca Juga: Soal Pembunuhan Jurnalis, PBB Desak Hentikan Impunitas

Ali Shoeib adalah koresponden veteran untuk Al-Manar TV, saluran yang terkait dengan Hizbullah. Fatima Ftouni bekerja untuk Al-Mayadeen, jaringan berita pan-Arab. Kedua saluran tersebut mengonfirmasi kematian jurnalis mereka dalam pernyataan terpisah.

Menurut laporan awal dari lapangan, rudal tersebut menghantam kendaraan yang mereka tumpangi atau wilayah di dekatnya saat mereka sedang menjalankan tugas jurnalistik. Lokasi spesifik serangan tersebut berada di Lebanon Selatan, yang telah menjadi saksi baku tembak rutin antara militer Israel dan kelompok bersenjata Lebanon sejak beberapa bulan terakhir.

Meskipun Israel belum mengeluarkan pernyataan resmi secara luas, militer Israel mengakui melakukan serangan di wilayah tersebut. Pihak Israel mengklaim bahwa Ali Shoeib, salah satu jurnalis Lebanon tewas dalam insiden itu, bukanlah jurnalis biasa melainkan “menyusup ke dalam unit intelijen Hizbullah dan telah melacak posisi pasukan Israel di Lebanon selatan.” Mereka juga menuduh dia “telah menyebarkan propaganda Hizbullah.”

Namun, tuduhan ini tidak disertai dengan bukti yang kuat atau diverifikasi secara independen. Ini adalah pola yang sering berulang dalam konflik ini, di mana pihak-pihak yang bertikai menuduh jurnalis sebagai kombatan untuk membenarkan serangan terhadap mereka.