Lingkaran Setan, Ini 5 Alasan Dibalik Susahnya Masyarakat Indonesia Keluar dari Kemiskinan Struktural

"Mengapa kemiskinan di Indonesia sulit diputus? Simak 5 alasan dibalik kemiskinan struktural mulai dari akses pendidikan hingga masalah kepemilikan lahan."
Mengapa kemiskinan di Indonesia sulit diputus? Simak 5 alasan dibalik kemiskinan struktural mulai dari akses pendidikan hingga masalah kepemilikan lahan. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Kemiskinan bukan sekadar masalah kekurangan uang, namun sering kali merupakan jebakan sistemis yang sulit diputus.

Di Indonesia, fenomena ini dikenal sebagai kemiskinan struktural, di mana sekelompok masyarakat tidak berdaya bukan karena malas bekerja, melainkan karena tatanan sosial, kebijakan, dan akses yang tidak mendukung mereka untuk maju.

Memahami akar permasalahan ini sangat penting agar kita tidak terjebak dalam stigma negatif terhadap kelompok rentan.

Berikut adalah 5 alasan di balik susahnya masyarakat Indonesia keluar dari kemiskinan struktural:

Baca Juga: Kakek Masir Dituntut 2 Tahun Penjara: Benturan UU Konservasi dan Realitas Kemiskinan Struktural

1. Akses Pendidikan Berkualitas yang Tidak Merata

Pendidikan sering disebut sebagai social elevator atau alat mobilitas sosial.

Namun, kenyataannya kualitas pendidikan di pelosok atau daerah kumuh jauh tertinggal dibandingkan kota besar.

Masyarakat miskin sering kali hanya mampu mengakses pendidikan dasar dengan fasilitas minim.

Tanpa keahlian khusus atau pendidikan tinggi, mereka terjebak dalam sektor pekerjaan informal dengan upah rendah, yang membuat siklus kemiskinan berlanjut ke generasi berikutnya (intergenerational poverty).

2. Kesenjangan Akses Modal dan Layanan Perbankan

Banyak pelaku usaha mikro di lapisan bawah tidak memiliki akses ke perbankan formal karena tidak adanya agunan atau jaminan.

Hal ini memaksa mereka lari ke pinjaman ilegal atau rentenir dengan bunga mencekik.

Bukannya berkembang, keuntungan usaha justru habis untuk membayar bunga hutang.

Tanpa dukungan modal yang sehat dan inklusi keuangan yang nyata, masyarakat kecil sulit untuk memperbesar skala ekonomi mereka.

3. Ketidakpastian Kepemilikan Lahan

Di sektor pertanian dan pemukiman, banyak masyarakat miskin yang tidak memiliki sertifikat tanah resmi atas lahan yang mereka tempati atau garap selama puluhan tahun.

Tanpa aset yang diakui secara hukum (land tenure security), mereka rentan terhadap penggusuran atau alih fungsi lahan oleh pemilik modal besar.

Tanah yang seharusnya menjadi modal produksi utama justru menjadi sumber kerentanan hidup.