Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Fenomena gelombang pengunduran diri atau resign massal setelah menerima Tunjangan Hari Raya (THR) seolah sudah menjadi tradisi tahunan di dunia kerja Indonesia.
Banyak perusahaan yang merasa khawatir akan kehilangan talenta terbaiknya tepat setelah kewajiban tunjangan dibayarkan.
Namun, anggapan bahwa karyawan pindah hanya demi mengejar gaji yang lebih tinggi ternyata tidak sepenuhnya tepat.
Berdasarkan laporan Workplace Happiness Index terbaru, alasan di balik keputusan karyawan untuk hengkang pasca-Lebaran jauh lebih mendalam daripada sekadar urusan nominal di rekening.
Baca Juga: Dompet Menipis? Begini Cara Atur Sisa Uang THR
Berikut adalah beberapa faktor utama yang memicu tren resign setelah THR:
1. Keseimbangan Hidup yang Terabaikan
Meskipun gaji yang tinggi diakui oleh 54% pekerja dapat meningkatkan kebahagiaan, faktor work-life balance atau keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi justru menjadi penentu utama seseorang bertahan.
Pekerja masa kini cenderung memilih meninggalkan perusahaan yang menuntut jam kerja berlebihan demi mencari lingkungan yang lebih menghargai waktu pribadi mereka.
2. Mencari Makna dalam Pekerjaan (Purpose)
Karyawan yang merasa pekerjaannya memiliki makna atau tujuan yang jelas terbukti cenderung lebih bahagia dan loyal.
Sebaliknya, ketika seseorang merasa pekerjaannya hanya menjadi rutinitas tanpa dampak atau perkembangan diri, momentum setelah menerima THR sering kali digunakan sebagai titik balik untuk mencari peluang yang lebih “hidup” di tempat lain.
















