Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Fenomena anomali cuaca El Nino kembali menjadi perhatian serius di Kalimantan Barat pada tahun 2026 ini.
Bagi masyarakat di wilayah khatulistiwa, perubahan pola iklim ini bukan sekadar kenaikan suhu udara, melainkan tantangan nyata yang memengaruhi berbagai sendi kehidupan sehari-hari.
Karakteristik geografis Kalimantan Barat yang didominasi oleh lahan gambut dan sungai besar membuat dampak fenomena ini terasa lebih kompleks.
Mulai dari urusan dapur hingga kesehatan keluarga, El Nino membawa perubahan yang memaksa kita untuk lebih adaptif dan waspada.
Baca Juga:Â Soroti Dampak Perang Iran Hingga El Nino, Walikota Pontianak Minta ASN Peka Situasi Global
Berikut adalah dampak nyata fenomena El Nino bagi kehidupan di Kalimantan Barat:
1. Ancaman Kabut Asap Akibat Karhutla
Dampak yang paling langsung terasa adalah meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Cuaca ekstrem yang kering membuat vegetasi di atas lahan gambut mudah terbakar.
Jika tidak dimitigasi, asap yang dihasilkan dapat menurunkan kualitas udara secara drastis, mengganggu aktivitas luar ruangan, hingga memicu gangguan pernapasan bagi warga di perkotaan maupun pedesaan.
2. Intrusi Air Laut ke Sungai Kapuas
Bagi warga Pontianak dan sekitarnya, kemarau panjang akibat El Nino berarti menyusutnya debit air tawar di Sungai Kapuas.
Kondisi ini memicu intrusi air laut yang menyebabkan air sungai menjadi payau atau asin.
Dampaknya, produksi air bersih dari perusahaan daerah terganggu, sehingga masyarakat kesulitan mendapatkan pasokan air tawar untuk kebutuhan konsumsi dan sanitasi sehari-hari.
3. Kenaikan Harga Bahan Pangan
Sektor pertanian lokal sangat bergantung pada ketersediaan air. Kemarau yang lebih panjang dapat menyebabkan gagal panen pada lahan padi dan sayuran milik petani. Berkurangnya pasokan pangan lokal di pasar otomatis akan memicu kenaikan harga bahan pokok, yang kemudian menambah beban pengeluaran rumah tangga masyarakat.
















