“Orang-orang ini tahu apa yang mereka lakukan. Kami tidak bisa melakukan hal seperti ini tanpa tim pekerja keras yang benar-benar kompeten. Nils mempercayai mereka untuk penerbangan pertama. Saya mempercayai mereka untuk penerbangan kedua dan setiap penerbangan setelahnya,” tambahnya.
Sebelum jadwal terbang, tim telah merampungkan salah satu pengujian darat terakhir pada 12 Maret lalu, yakni uji nyala mesin (engine run) menggunakan mesin F414-GE-100 modifikasi F-18 Super Hornet yang terpasang di X-59.
Manajer Proyek Low Boom Flight Demonstrator NASA, Cathy Bahm, menjelaskan bahwa rute dan profil penerbangan kedua ini akan terlihat sangat mirip dengan penerbangan perdana.
“Kami akan memulai penerbangan pada kondisi uji dari penerbangan pertama untuk memastikan X-59 berkinerja sesuai harapan setelah fase perawatan, kemudian kami akan memulai ekspansi selubung penerbangan dengan menguji sedikit lebih tinggi dan lebih cepat,” jelas Bahm.
Penerbangan ini menandai dimulainya fase pengujian secara bertahap. Setelah pesawat mencapai kecepatan sekitar 230 mph di ketinggian 12.000 kaki dan tim melakukan pemeriksaan fungsional, pesawat akan dipacu hingga 260 mph di ketinggian 20.000 kaki.
Baca Juga: Kunjungi Lockheed Martin, Menteri Perang AS Tekankan Kecepatan Industri Pertahanan
Pada akhirnya, X-59 ditargetkan mampu mencapai parameter misi utamanya, yakni terbang dengan kecepatan 925 mph (Mach 1,4) di ketinggian 55.000 kaki.
Sebagai informasi, X-59 merupakan bagian inti dari misi Quesst NASA yang bertujuan untuk mengawali era baru penerbangan supersonik komersial yang senyap di atas daratan. Melalui desain khusus, pesawat ini dirancang agar gelombang kejut tidak menghasilkan ledakan sonik (sonic boom) yang keras, melainkan hanya berupa suara dentuman pelan.
Setelah memvalidasi akustiknya, NASA berencana menerbangkan pesawat ini di atas sejumlah komunitas di AS guna mengumpulkan data persepsi suara dari masyarakat setempat.
(FR)










