“Padi, sawit, sayur-sayuran, pisang, durian lokal,” imbuhnya.
Perhitungan keuntungan sawah tidak tetap melihat bagaimana hasil setiap panen Tere menjelaskan terkadang keuntungan hanya untuk makan saja jika diibaratkan. Perhitungan untung ruginya dimulai dari buka lahan, beli pupuk, penanaman, racun rumput dan lain sebagainya dibandingkan dengan hasil panen.
“Kemarin saya hasilnya kurang bagus cuma dapat satu ton untung sedikit saja. Satu ton itu dengan harga lima ribu tiga ratus rupiah berarti satu tonnya lima juta tiga ratus sedangkan modal tiga juta,” jelasnya.
Penghasilan yang beragam itu diduga karena banyak faktor, terlebih ditunjang lagi beban ganda yang dibebankan kepada perempuan hingga proses pemeliharaan sawah tidak terkondisikan dengan baik.
“Penghasilan itu beda-beda, tidak bisa kita hitung. Kalau ada yang dapat banyak, ada yang tidak menghasilkan, karena kurang perawatan, karena kemarau, tanah kering, kemudian pas perawatan kurang pas, karena waktu tadi dibagi sana-sini, jadi tidak tepat sasaran pemupukan, penyemprotan. Itu juga bisa mengakibatkan penurunan hasil panen. Berpengaruh dia,” ungkap Tere.
Tere sempat alami kendala saat harga gabah turun dan juga gabah hasil panen tidak sebanyak tahun biasanya, ia mengungkapkan kekecewaannya bahkan nyaris takut untuk membuka sawah lagi.
“Pernah seperti itu, itu pasti mengalami kerugianlah kepada diri saya atau teman-masing saya petani lainnya dengan warga yang turun hasil turun, kalau saya sebenarnya mengalami seperti itu rasanya di periode ke depannya tidak mau lagi buka lahan. Kalau solusi saling menyemangati supaya ke depannya akan mendapatkan hasil yang lebih baik, membagi ilmu merawat hasil yang berhasil itu membagikan cara bagaimana penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat hingga hasil panen meningkat,” paparnya.
Izhar selaku Kepala Dusun desa Pak Nungkat, desa Sekabuk menyoroti peran ganda yang ditanggung oleh perempuan di mana perempuan secara budaya sosial dilanggengkan untuk bertanggung jawab pada urusan rumah dan tanah.
“Perempuan sebenarnya pelaku utama dalam kehidupan sehari-hari, mereka mengurus anak, bertani, sekaligus membantu mencari penghasilan keluarga, waktu mereka dihabiskan di ladang dari pagi sampai sore,” ungkapnya setelah pemaparan Diseminasi Feminist Participatory Action Research (FPAR), Jumat, (13/3/2026).
Tak hanya Izhar, Ageng selaku penggiat sosial Gemawan yang mendampingi masyarakat Desa Sekabuk dan Barangan turut angkat bicara mengenai daya adaptasi perempuan dalam menghadapi perubahan yang ada di lingkungan kehidupannya.
“Perempuan sebenarnya memiliki kemampuan beradaptasi yang luar biasa. Ketika kondisi ekonomi berubah mereka mencoba berbagai cara, termasuk berjualan dan mencari sumber penghasilan lain untuk membantu keluarga,” tegasnya, Jumat, (13/3/2026).
Baca Juga: Gugat Dominasi Patriarki, Gemawan Soroti Nasib Perempuan Pengelola Alam yang Terhapus Administrasi
(Mira)
















