Faktakalbar.id, MEMPAWAH – Kehidupan bertani masyarakat desa Sekabuk kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat menjadi salah satu pondasi perekonomian masyarakat setempat.
Pergerakan kelompok tani yang ada di dalamnya didominasi oleh perempuan salah satunya Teresiayati (44) petani perempuan dari dusun Sekabuk, desa Sekabuk, kecamatan Sadaniang, kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.
“Kita gabung dengan bapak-bapak untuk kelompok tani, tapi dominan yang turun ke sawah itu perempuan, menanam padi, panen, cabut rumput, tebas pinggir-pinggir kotak sawah itu banyakkan perempuan. Yang laki-laki kan traktor, nyemprot, itu kerjaannya,” jelas Tere waktu diwawancarai via video call, Senin, (16/3/2026).
Tere juga mengatakan bahwa sebelum berangkat untuk bertani ia menyiapkan makanan pokok untuk suami dan anak-anaknya.
Baca Juga: Advokasi Sepiring Nasi: Membaca Perjuangan Perempuan Sadaniang di Tengah Krisis Ekologis
“Kalau pagi itu jam 7-10 berangkat ke sawah, sebelumnya saya siapkan makanan. Makanan pokok ajalah, terus kalau anak saya dan suami saya itu mandiri, mereka bisa menyiapkan makanan sendiri, tapi saya siapkan pokoknya jadi ketika saya tidak di rumah anak itu sudah ada makanannya,” jelas Tere.
Sebagai perempuan yang bergerak aktif dan sebagai aktor kunci dalam pergerakan perempuan di desa, Tere mengaku bahwa suami dan anak-anaknya juga memahami kesibukan dan aktivitas masing-masing.
“Kalau suami ga pernah marah. Apapun yang saya buat dia ga pernah marah, anak saya dua. Jadi kita keseharian memang masing-masing. Anak punya aktivitas, saya punya aktivitas, suami saya punya aktivitas jadi kita memberi waktu untuk masing-masing aktivitasnya,” jelas ibu dua anak tersebut.
Anak-anaknya bermain dan belajar, sedangkan suaminya terkadang bekerja, beberapa waktu di rumah, sementara dirinya di desa juga terlibat di berbagai kegiatan.
“Saya hadir itu saya merasakan bahagia gitu, Bu. Saya bahagia bisa mendampingi ibu-ibu yang lainnya membuat sesuatu kegiatan. Impiannya sih ingin membuat suatu kegiatan yang bermanfaat,” ujarnya sembari tersenyum bangga.
Tere mengatakan motivasinya aktif memberdayakan perempuan lain lahir agar peningkatan kualitas sumber daya perempuan di desanya meningkat, serta menyejahterakan kualitas hidup bersama.
“Kalau saya sendiri berpikir begini. Kalau kita bisa menciptakan sesuatu yang baik maka tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Untuk meningkatkan kualitas sumber daya perempuan-perempuannya. Sehingga kita bisa menjadi kelompok yang maju yang bisa bersinambung antara satu dengan yang lainnya,” ungkapnya Senin, (16/3/2026).
Dari pandangan Tere, perempuan di desa sudah banyak yang berpikiran sama dengannya memahami konsep bahwa perbaikan kualitas ekonomi dimulai dari diri sendiri dan keluarga maka akan berdampak pula ke desa.
“Sudah banyak yang berpikiran sama. Makanya kalau untuk memajukan desa berawal dari diri sendiri, kalau misalnya diri sendiri sudah menciptakan kemajuan untuk ekonomi diri sendiri atau untuk kesejahteraan keluarga dari desa juga mendapatkan manfaatnya,” imbuh Tere.
Namun di tengah perjalanan berprogres dalam kelompok tani bersama perempuan tani lainnya, tak jarang dijumpainya kendala yakni semangat yang pasang surut dari rekan yang lain.
“Awal-awal kita mau mulai kegiatan itu semangat-semangat dulu. Nanti kalau udah dipertengahan jalan nih udah mulai redup semangat nih, aku ga sempat hari ini, aku mau ke sini, akhirnya tidak sesuai harapan memang kecewa juga padahal kita sudah menyiapkan diri gitu,” ungkap Tere.
Tere juga menjelaskan sedikit selain menanam padi warga setempat juga menanam tanaman lainnya.
















