Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Banyak perempuan merasakan perubahan emosi yang cukup signifikan menjelang atau saat hari pertama datang bulan.
Perasaan mudah tersinggung, sensitif, hingga dorongan untuk marah yang sulit dikendalikan sering kali muncul tanpa diundang.
Fenomena ini bukanlah bentuk kegagalan dalam mengelola emosi, melainkan sebuah proses biologis kompleks yang terjadi di dalam tubuh.
Memahami apa yang sebenarnya terjadi secara fisik dan psikologis dapat membantu kita menyikapi perubahan suasana hati ini dengan lebih bijak, tanpa harus menyudutkan pihak manapun.
Baca Juga:Â Kadang Nyeri Kadang Tidak, Mengapa Kram Datang Bulan Tidak Terjadi Setiap Bulan?
Berikut adalah alasan logis dan ilmiah mengapa datang bulan bisa memengaruhi stabilitas emosi:
1. Fluktuasi Hormon Estrogen dan Progesteron
Penyebab utama di balik perubahan emosi ini adalah naik-turunnya kadar hormon estrogen dan progesteron secara drastis.
Menjelang menstruasi, kadar kedua hormon ini akan menurun tajam.
Perubahan kimiawi ini berdampak langsung pada bagian otak yang mengatur suasana hati.
Tubuh sedang beradaptasi dengan perubahan internal yang cepat, sehingga respons emosional menjadi lebih reaktif dibandingkan hari-hari biasanya.
2. Penurunan Kadar Serotonin
Penurunan estrogen ternyata berbanding lurus dengan menurunnya zat serotonin di otak.
Serotonin adalah senyawa kimia yang bertanggung jawab menciptakan perasaan bahagia, tenang, dan nyaman.
Ketika kadar serotonin rendah, seorang perempuan akan lebih mudah merasa cemas, sedih, dan memiliki ambang kesabaran yang lebih rendah.
Inilah yang membuat hal-hal kecil yang biasanya dianggap biasa saja, justru terasa sangat mengganggu saat sedang datang bulan.
3. Gangguan Tidur dan Rasa Lelah
Proses peluruhan dinding rahim memerlukan energi yang besar dari tubuh.
Tak heran jika perempuan sering merasa sangat lelah (fatigue) saat menstruasi.
Selain itu, kram perut dan rasa tidak nyaman di pinggang sering kali mengganggu kualitas tidur di malam hari.
Kurang tidur dikombinasikan dengan kelelahan fisik secara otomatis akan meningkatkan sensitivitas emosional, sehingga seseorang menjadi lebih mudah merasa dongkol atau marah.
















