Lebih dari Sekadar Lagu Anak, Inilah Bedah Makna dan Fakta Unik Lagu Cik Cik Periuk Asal Sambas

"Benarkah lagu Cik Cik Periuk berisi sindiran untuk penjajah? Simak bedah makna lirik dan fakta unik lagu daerah Kalimantan Barat yang mendunia ini."
Benarkah lagu Cik Cik Periuk berisi sindiran untuk penjajah? Simak bedah makna lirik dan fakta unik lagu daerah Kalimantan Barat yang mendunia ini. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Bagi masyarakat Kalimantan Barat, lagu “Cik Cik Periuk” bukan sekadar nyanyian masa kecil atau pengiring permainan tradisional.

Lagu daerah asal Kabupaten Sambas ini merupakan warisan budaya tak benda yang telah dikenal secara nasional, bahkan internasional.

Namun, di balik nadanya yang ceria dan rima katanya yang unik, terdapat makna mendalam serta fakta sejarah yang menarik untuk dibedah.

Lagu ini sering kali disalahpahami hanya sebagai lagu jenaka, padahal bait-baitnya mengandung sindiran sosial dan pesan moral yang relevan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas masyarakat Melayu Sambas pada masa lampau.

Baca Juga: Pelaku Kasus Anak Aniaya Ibu di Sambas Ternyata Pasien Baru Keluar RSJ

Berikut adalah bedah makna dan fakta unik di balik lagu Cik Cik Periuk:

1. Sindiran Halus Terhadap Penjajah dan Orang Asing

Secara historis, “Cik Cik Periuk” diyakini telah ada sejak ratusan tahun lalu.

Liriknya yang berbunyi “Cik cik periuk belanga sumbing dari Jawa” sering diartikan sebagai sindiran masyarakat lokal terhadap orang luar atau pendatang yang datang ke tanah Sambas dengan membawa pengaruh atau niat yang tidak selaras dengan adat setempat.

Belanga sumbing menjadi simbol ketidaksempurnaan atau perilaku yang kurang baik yang dibawa oleh pengaruh luar tersebut.

2. Makna “Datang ke Sambas Dibawa Raja”

Potongan lirik ini merujuk pada kedatangan orang-orang asing yang difasilitasi oleh penguasa saat itu.

Masyarakat Sambas yang kritis menggunakan lagu ini sebagai sarana protes halus untuk mengingatkan bahwa tidak semua hal yang dibawa oleh orang baru memberikan manfaat.

Ini mencerminkan sikap waspada dan upaya menjaga kemurnian budaya lokal dari intervensi yang merugikan.

3. Simbol Moralitas dalam Lirik “Gigi Jarang”

Lirik “Gigi jarang tersengat lade” atau “Gigi jarang disambar dade” merupakan metafora yang unik.

Dalam kearifan lokal, “gigi jarang” sering dikaitkan dengan seseorang yang tidak bisa menjaga rahasia atau suka membicarakan keburukan orang lain (bergosip).

Efek “tersengat lade” (terkena lada/pedas) adalah simbol bahwa setiap perbuatan buruk atau ucapan yang menyakiti hati orang lain akan mendapatkan balasan atau ganjaran yang setimpal.