erang Iran Memanas: 40 Fasilitas Energi di Timur Tengah Rusak Parah, Pasokan LNG Global Anjlok 20 Persen

"Perang Iran vs AS-Israel selama 24 hari akibatkan 40 fasilitas energi rusak parah. IEA peringatkan krisis pasokan migas terbesar dalam sejarah pasar global."
Perang Iran vs AS-Israel selama 24 hari akibatkan 40 fasilitas energi rusak parah. IEA peringatkan krisis pasokan migas terbesar dalam sejarah pasar global. (Dok. Ist)

Faktakalbar.id, INTERNATIONAL – Eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel yang telah berlangsung selama 24 hari dampaknya mulai melumpuhkan sektor energi global.

Laporan terbaru menyebutkan setidaknya 40 fasilitas energi di sembilan negara Timur Tengah mengalami kerusakan parah, yang memicu ancaman krisis pasokan migas terbesar dalam sejarah.

Melansir laporan dari CNBC Indonesia, Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional (IEA), Fatih Birol, mengungkapkan bahwa kerusakan tersebut mencakup ladang minyak dan gas, kilang, hingga jalur pipa strategis. Situasi ini dinilai akan membutuhkan waktu pemulihan yang sangat lama.

“Perang Iran telah sangat mengganggu arus perdagangan energi melalui Selat Hormuz yang sangat penting dan strategis, menciptakan apa yang menurut kami merupakan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Pasokan gas alam cair (LNG) global juga telah berkurang sekitar 20% sejak konflik dimulai pada 28 Februari lalu,” ujar Birol sebagaimana dikutip dari CNBC, Senin (23/3/2026).

Baca Juga: Amankan Malam Takbiran, Kapolres Kubu Raya Instruksikan Personel Siaga dan Awasi Distribusi BBM

Birol menegaskan bahwa dampak kehancuran infrastruktur ini setara dengan krisis minyak besar pada tahun 1970-an.

Tidak hanya migas, komoditas vital lainnya seperti petrokimia, pupuk, hingga helium turut terganggu, yang berpotensi memukul ekonomi global secara serius.

Ancaman semakin meruncing setelah Presiden AS, Donald Trump, menyatakan akan menghancurkan pusat pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tetap ditutup.

Jalur air tersebut merupakan koridor kunci yang dilalui sekitar 20 persen produksi minyak dan gas dunia.

Menanggapi ancaman tersebut, Juru Bicara Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, memperingatkan bahwa serangan terhadap fasilitas listrik Iran akan dibalas dengan kehancuran total infrastruktur energi di seluruh kawasan Teluk.