Hidupkan Tradisi, Gubernur Ria Norsan Gelar Makan Saprahan di Hari Pertama Idulfitri

"Gubernur Kalbar Ria Norsan gelar tradisi Makan Saprahan di hari pertama Idulfitri 1447 H. Simak makna kesetaraan dan kebersamaan di balik tradisi khas Melayu ini."
Gubernur Kalbar Ria Norsan gelar tradisi Makan Saprahan di hari pertama Idulfitri 1447 H. Simak makna kesetaraan dan kebersamaan di balik tradisi khas Melayu ini. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, PONTIANAK — Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, menghidupkan kembali tradisi Makan Saprahan sebagai agenda utama dalam menyambut tamu dan masyarakat pada perayaan hari pertama Idulfitri 1447 Hijriah.

Kegiatan yang berlangsung di Pendopo Gubernur ini diikuti oleh jajaran Kepala OPD, tokoh lintas etnis dan agama, serta warga sekitar, Minggu (22/3).

Tradisi khas Melayu ini dilakukan dengan tata cara komunal, di mana Gubernur bersama para tamu duduk bersila di atas lantai yang telah terhampar kain seprah.

Dalam satu kelompok hidangan, terdapat enam orang yang menikmati sajian secara bersama-sama tanpa sekat protokoler yang kaku.

Baca Juga: Kebut Penyidikan Kasus Korupsi Jalan Mempawah yang Seret Nama Ria Norsan, KPK Kini Periksa 5 Saksi dari Pihak Swasta

Ria Norsan menegaskan bahwa penyelenggaraan Saprahan di hari raya bukan sekadar jamuan makan, melainkan upaya menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi. Menurutnya, tradisi ini mengandung nilai kesetaraan yang kuat antara pemimpin dan rakyat.

“Makan Saprahan ini adalah cerminan jati diri masyarakat Kalimantan Barat. Tidak ada sekat antara pemimpin dan rakyat, semua duduk bersama menikmati berkah yang sama. Di hari yang fitri ini, kita kembali mempererat persaudaraan dan saling menghargai,” ujar Ria Norsan di sela-sela kegiatan.

Berbagai menu autentik khas Kalimantan Barat turut disajikan dalam hamparan tersebut, mulai dari Pacri Nenas, Ketupat Patlau, rendang daging, opor ayam, hingga sayur dalca.

Suasana kekeluargaan tampak kental saat para tokoh masyarakat dan warga membaur menikmati hidangan tersebut.

Gubernur berharap nilai-nilai yang terkandung dalam Makan Saprahan, seperti adab dan gotong royong, dapat diimplementasikan dalam kehidupan sosial masyarakat sehari-hari untuk memperkuat ketahanan budaya daerah.