Opini  

Lebaran, Fitrah, dan Jalan Panjang Menuju Ketakwaan

"Refleksi mendalam Gusti Hardiansyah (ICMI Kalbar) tentang Idul Fitri 1447 H. Menelusuri makna taqwa, tradisi mudik, hingga pesan peradaban di balik hari kemenangan."
Refleksi mendalam Gusti Hardiansyah (ICMI Kalbar) tentang Idul Fitri 1447 H. Menelusuri makna taqwa, tradisi mudik, hingga pesan peradaban di balik hari kemenangan. (Dok. Ist)

OPINI — Takbir menggema, Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Walillāhil hamd.

Di tengah gema itu, manusia seolah diajak berhenti sejenak: menoleh ke dalam diri, merenungi satu bulan penuh perjalanan spiritual yang telah dilalui.

Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah, tetapi sebuah madrasah kehidupan tempat manusia dilatih menahan diri, membersihkan hati, dan menata ulang arah hidupnya.

Kini, kita sampai di Idul Fitri 1447 H. Hari yang sering dimaknai sebagai kemenangan.

Baca Juga: 4 Tips Wangi Seharian Saat Idul Fitri: Rahasia Parfum Tahan Lama di Cuaca Panas

Namun kemenangan ini bukan kemenangan lahiriah. Ia adalah kemenangan sunyi kemenangan melawan ego, hawa nafsu, dan kecenderungan manusia untuk lalai.

Allah SWT telah menegaskan tujuan puasa: “La‘allakum tattaqūn”   agar kamu menjadi orang yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah: 183).

Artinya, seluruh proses Ramadhan bermuara pada satu titik: taqwa.

Sepanjang bulan suci, umat Islam menjalani rangkaian ibadah: tarawih berjamaah, qiyamul lail, tadarus Al-Qur’an, sedekah, zakat, hingga i’tikaf di malam-malam terakhir.

Semua itu bukan sekadar rutinitas, tetapi proses pembentukan karakter ruhani.

Namun pertanyaan mendasarnya sederhana: apakah Ramadhan benar-benar mengubah kita?

Lebaran dalam tradisi Islam justru mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan: agama ini memberi ruang bagi kegembiraan.

Rasulullah tidak melarang ekspresi kebahagiaan.

Bahkan ketika Abu Bakar RA hendak menghentikan nyanyian di hari raya, Nabi bersabda: “Fa inna likulli qaumin ‘īdan, wa hādzā ‘īdunā” (Setiap kaum memiliki hari raya, dan ini adalah hari raya kita).

Islam tidak menolak kegembiraan. Namun ia memberi arah: kegembiraan yang tidak melupakan makna.

Dalam sejarah, Rasulullah bahkan menghadirkan kebahagiaan bagi mereka yang paling kehilangan.

Seorang anak yatim yang ayahnya gugur dalam peperangan pernah menangis di hari raya. Rasulullah mendekatinya dan menawarkan kasih sayang: menjadi ayah baginya, menghadirkan keluarga baru baginya.

Inilah pesan Idul Fitri: kegembiraan harus bersifat inklusif, tidak boleh meninggalkan yang lemah.

Karena itu, Islam mensyariatkan zakat fitrah agar semua orang bisa menikmati hari raya dengan layak.

Tidak ada yang lapar di hari kemenangan. Tidak ada yang merasa sendiri.

Di Indonesia, Idul Fitri berkembang menjadi Lebaran—sebuah ekspresi budaya yang hidup dan menghangatkan.

Tradisi mudik, misalnya, bukan sekadar mobilitas sosial, tetapi simbol spiritual: kembali ke asal.

Pulang ke orang tua. Pulang ke akar. Dan pada akhirnya, pulang kepada Allah SWT.

Simbol lain yang khas adalah ketupat. Dalam kearifan lokal, ia dimaknai sebagai “ngaku lepat”—pengakuan atas kesalahan.

Anyaman janur yang rumit melambangkan kerumitan dosa manusia, sementara isi yang putih melambangkan hati yang kembali bersih.

Janur sendiri dimaknai sebagai Ja (datang) dan Nur (cahaya).

Seolah Lebaran adalah momentum ketika manusia membuka rumahnya, membuka hatinya, dan membiarkan cahaya ilahi masuk ke dalam kehidupan.

Namun Lebaran tidak berhenti pada satu hari. Islam mengajarkan kontinuitas melalui puasa enam hari di bulan Syawal.

Rasulullah bersabda bahwa barang siapa berpuasa Ramadhan lalu mengikutkannya dengan enam hari di bulan Syawal, maka seolah-olah ia berpuasa sepanjang tahun.

Puasa enam ini adalah simbol bahwa fitrah tidak berhenti di hari raya. Ia harus dijaga, dirawat, dan diperkuat.

Karena itu, esensi Idul Fitri bukanlah kemewahan. Bukan pula perayaan yang berlebihan.

Ia adalah kelanjutan perjalanan menuju ketakwaan.

Lebaran sejati bukan di meja makan, tetapi di dalam hati: apakah kita lebih jujur, lebih sabar, lebih peduli?

Di tengah refleksi ini, kita juga dihadapkan pada realitas dunia yang getir. Konflik masih berlangsung dan ketidakadilan masih terjadi.

Umat manusia, termasuk umat Islam, masih terpecah oleh kepentingan politik dan ekonomi global.

Di banyak tempat, konflik tidak semata soal perbedaan, tetapi juga berkaitan dengan perebutan sumber daya, dominasi ekonomi, dan kekuatan geopolitik.

Akibatnya, umat mudah diadu domba, terfragmentasi, dan kehilangan arah.

Padahal Al-Qur’an telah mengingatkan untuk berpegang teguh kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai (QS. Ali Imran: 103).

Ayat ini bukan sekadar pesan spiritual, tetapi juga pesan peradaban.

Tanpa persatuan, umat akan lemah. Tanpa kesadaran kolektif, umat akan mudah dimanfaatkan.

Karena itu, Lebaran harus menjadi momentum untuk menyatukan kembali hati yang terbelah.

Bukan hanya antar individu, tetapi juga antar kelompok, bahkan antar bangsa.

Dunia hari ini membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan ekonomi. Dunia membutuhkan kepemimpinan moral yang lahir dari nilai-nilai Ramadhan.

Indonesia, dengan wajah Islam yang moderat dan inklusif, memiliki peluang besar untuk menghadirkan narasi tersebut.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar setelah Ramadhan adalah: apakah kita berubah, atau hanya menjalani rutinitas?

Jika Ramadhan hanya menjadi agenda tahunan, maka ia kehilangan ruhnya.

Namun jika ia melahirkan manusia yang lebih baik, maka Idul Fitri benar-benar menjadi kemenangan peradaban.

Lebaran bukan hanya tentang kembali ke rumah. Tetapi tentang kembali ke hati yang bersih.

Bukan hanya tentang berkumpul, tetapi tentang mendekat kepada Allah SWT.

Dan dari situlah, peradaban yang lebih adil dan beradab bisa dimulai.

Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Walillāhil hamd.

Atas nama ICMI Orwil Kalimantan Barat, kami mengucapkan: Taqabbalallāhu minnā wa minkum. Minal ‘āidīn wal fāizīn.

Selamat Idul Fitri 1447 H / 2026 M. Mohon maaf lahir dan batin.

Baca Juga: Pemerintah Gelar Sidang Isbat Sore Ini, Cek Beda Prediksi Tanggal Idul Fitri 1447 H

Penulis: Gusti Hardiansyah

Ketua ICMI Orwil Kalbar