Opini  

Nestapa Lebaran, Antrean yang Tak Mau Usai

"Sebuah opini mendalam tentang nestapa warga Pontianak yang harus menghadapi antrean BBM di hari pertama Lebaran 1447 H. Antara narasi stok aman dan realitas di lapangan."
Sebuah opini mendalam tentang nestapa warga Pontianak yang harus menghadapi antrean BBM di hari pertama Lebaran 1447 H. Antara narasi stok aman dan realitas di lapangan. (Dok. Ist)

OPINI — Hari pertama Lebaran.

Hari yang mestinya dipenuhi aroma opor, gema takbir yang masih tersisa di dinding rumah, dan pelukan keluarga yang menghangatkan dada.

Tapi di ruang tamu, di antara kue kering yang mulai melempem dan sirup yang terlalu manis, obrolan justru pahit: antrean BBM.

Topik yang sama. Lagi. Lagi.

Baca Juga: Mengenang Hangatnya Kebersamaan, Inilah 5 Tradisi Lebaran Unik yang Selalu Ada di Keluarga

Seolah-olah kita tidak benar-benar merayakan hari kemenangan, melainkan sedang menghadiri rapat darurat nasional yang tak pernah diundang secara resmi.

Saat keluar rumah menuju tempat mertua, harapan saya sederhana: jalanan lengang, hati tenang.

Tapi realitas menampar pelan, lalu menampar lagi dengan lebih keras.

Tiga SPBU saya lewati: Dansen, Kota Baru, dan simpang Jalan Teuku Umar di Pontianak. Semuanya masih ramai.

Antrean tetap ada.

Memang tidak sepanjang kemarin yang seperti ular raksasa kelaparan, tapi cukup panjang untuk membuat kesabaran manusia modern runtuh satu per satu.

Minyaknya ada, katanya. Tapi antreannya tetap seperti dosa yang tak kunjung diampuni.

Ironisnya, ini bukan di pelosok negeri yang harus ditempuh dengan perahu kayu dan doa panjang.

Ini ibu kota provinsi. Kota yang mestinya jadi wajah peradaban, bukan potret penderitaan yang diulang-ulang seperti sinetron azab.

Lebaran pun berubah makna. Bukan lagi soal mudik, tapi soal keberanian.

Banyak warga memilih tidak pulang kampung. Bukan karena tak rindu, tapi karena takut.

Takut bukan pada macet, bukan pula pada biaya, tapi pada horor antrean BBM di kampung halaman.

Sebuah ketakutan baru yang tidak ada dalam cerita-cerita urban legend.

Bayangkan! Seseorang lebih rela menahan rindu kepada orang tua daripada menghadapi antrean bensin.

Ini bukan lagi masalah logistik. Ini sudah masuk wilayah tragedi psikologis.

Di sisi lain, suara pemerintah daerah dan Pertamina tetap tenang, teduh, dan nyaris suci: “Stok aman, jangan panic buying.”

Kalimat itu diulang-ulang, seperti zikir tengah malam yang diharapkan mampu menenangkan jiwa yang gelisah.

Tapi entah kenapa, zikir itu tak pernah sampai ke hati rakyat yang berdiri berjam-jam di bawah matahari.

Menunggu giliran yang terasa seperti janji politik: datangnya lama, kadang tidak datang sama sekali.

Jika memang stok aman, kenapa antrean tetap panjang?

Jika memang semua terkendali, kenapa warga harus berjibaku seperti sedang berebut air di musim kemarau panjang?

Jika semuanya baik-baik saja, kenapa rasanya tidak ada yang benar-benar baik?

Mungkin masalahnya bukan pada stok.

Mungkin masalahnya adalah distribusi yang pincang, sistem yang gagap, atau koordinasi yang seperti permainan estafet tanpa pelari terakhir.

Atau mungkin, lebih menyakitkan lagi, ini semua adalah hal yang dianggap “wajar”. Di situlah letak tragedinya.

Ketika sesuatu yang tidak normal mulai diterima sebagai keseharian, maka kita tidak hanya kehilangan kenyamanan, tapi juga kehilangan kepekaan.

Seorang warga pernah berkata dengan nada getir, “Coba yang bilang stok aman itu ikut antre juga, biar tahu sakitnya.”

Kalimat sederhana, tapi mengandung luka yang dalam.

Luka karena merasa tidak didengar. Luka karena realitas yang dialami berbeda jauh dari narasi yang disampaikan.

Lebaran tahun ini akhirnya bukan tentang kemenangan melawan hawa nafsu. Tapi tentang kekalahan menghadapi sistem yang tak kunjung beres.

Kita menang melawan lapar dan dahaga selama Ramadan, tapi kalah melawan antrean di hari raya.

Pertanyaan itu terus menggantung di udara, seperti asap knalpot yang tak pernah benar-benar hilang: kenapa ini terjadi?

Lebih menyakitkan lagi: sampai kapan?

Selamat Hari Raya Idulfitri 1447H. Mohon maaf lahir dan batin. Salam Koptagul.

Baca Juga: Wali Kota Pastikan Kelancaran Arus Mudik Lebaran di Pelabuhan Pontianak

Penulis: Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar