Pontianak  

Menggelegar di Tepian Kapuas, Inilah 5 Fakta Menarik Meriam Karbit Pontianak

"Kenali lebih dalam tradisi unik Kota Khatulistiwa lewat 5 fakta menarik meriam karbit Pontianak, mulai dari sejarah pengusir hantu hingga rahasia dentuman raksasanya."
Kenali lebih dalam tradisi unik Kota Khatulistiwa lewat 5 fakta menarik meriam karbit Pontianak, mulai dari sejarah pengusir hantu hingga rahasia dentuman raksasanya. (Dok. Mira/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Setiap kali bulan suci Ramadhan mendekati puncaknya, getaran dentuman keras mulai terasa di sepanjang tepian Sungai Kapuas.

Suara itu bukan berasal dari petasan biasa, melainkan dari Meriam Karbit, sebuah tradisi turun-temurun yang menjadi ikon tak tergantikan bagi masyarakat Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Bagi warga setempat, meriam ini bukan sekadar alat pembuat suara bising, melainkan simbol semangat kebersamaan dan pelestarian budaya yang telah ada sejak berdirinya Kota Khatulistiwa.

Berikut adalah beberapa fakta menarik mengenai meriam karbit Pontianak yang perlu Anda ketahui:

Baca Juga: Liberika di Malam Ramadhan dan Bayang-Bayang Perang Dunia

1. Sejarah Berdirinya Kota Pontianak

Tradisi meriam karbit memiliki kaitan erat dengan sejarah berdirinya Kesultanan Kadriyah Pontianak pada tahun 1771.

Konon, Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie memerintahkan pasukannya untuk menembakkan meriam guna mengusir hantu kuntilanak yang mengganggu pembangunan istana di tengah hutan belantara.

Seiring berjalannya waktu, bunyi dentuman ini beralih fungsi menjadi penanda masuknya waktu berbuka puasa dan perayaan Hari Raya Idulfitri.

2. Ukuran yang Fantastis

Berbeda dengan meriam kecil pada umumnya, meriam karbit Pontianak memiliki ukuran yang raksasa.

Biasanya, meriam ini dibuat dari batang kayu pilihan, seperti kayu mabang atau kayu belian, dengan panjang mencapai 5 hingga 7 meter dan diameter sekitar 50 sampai 70 sentimeter.

Kekuatan suara yang dihasilkan sangat bergantung pada besarnya diameter kayu dan teknik pencampuran air dengan karbit (calcium carbide).

3. Kayu Balok dan Rotan sebagai Bahan Utama

Meskipun disebut meriam, senjata tradisional ini sama sekali tidak menggunakan besi.

Batang kayu besar dibelah menjadi dua, kemudian bagian tengahnya dikeruk hingga berlubang seperti tabung.

Kedua belahan tersebut disatukan kembali dengan cara dililit erat menggunakan rotan agar kuat menahan tekanan gas saat diledakkan.

Unsur estetika juga sangat diperhatikan, di mana setiap kelompok peserta biasanya menghias meriam mereka dengan motif kain tenun khas Pontianak atau warna-warna cerah.