Opini  

Dari Mana Asal Muasal Tradisi Maaf-memaafkan di Hari Raya Idulfitri

"Mengupas sejarah unik tradisi maaf-memaafkan dan halalbihalal di Indonesia. Dari zaman Nabi, Wali Songo, hingga strategi politik Soekarno yang jadi budaya nasional."
Mengupas sejarah unik tradisi maaf-memaafkan dan halalbihalal di Indonesia. Dari zaman Nabi, Wali Songo, hingga strategi politik Soekarno yang jadi budaya nasional. (Dok. Ist)
OPINI — Ramadan pamit dengan elegan, 1 Syawal datang dengan gegap gempita.

Tiba-tiba satu negara berubah jadi kementerian permintaan maaf dadakan.

Grup WA yang biasanya isinya link Tiktok, hoaks perang, dan debat politik, mendadak jadi taman bunga penuh kalimat “mohon maaf lahir dan batin”.

Foto profil pun naik kasta, dari selfie buram di warung kopi berubah jadi pose paling ganteng dan paling cantik.

Baca Juga: Rayakan Idulfitri di Berau, Pekerja Konservasi Asal Kapuas Hulu Ceritakan Suasana Salat Ied di Tengah Hujan

Seolah-olah dosa bisa dihapus pakai filter dan pencahayaan golden hour.

Kita mulai lagi seruput Koptagul, setelah sebulan kita hanya imagine.

Nikmati narasinya, dan siap-siap untuk mohon maaf lahir dan batin.

Kembali ke soal tradisi maaf-memaafkan.

Lucunya, tradisi ini begitu masif sampai terasa seperti program nasional yang tidak pernah disahkan DPR.

Tapi, ia lebih disiplin dari banyak kebijakan negara. Nuan bayangkan!

Orang yang setahun penuh susah minta maaf ke tetangga karena parkir serong, tiba-tiba malam takbiran kirim flyer dengan wajah penuh senyum.

Isinya puitis, menyentuh, dan tentu saja copy-paste.

Yang penting kirim dulu, urusan tulus belakangan.

Lalu muncul pertanyaan klasik yang biasanya baru dipikirkan setelah jempol pegal kirim pesan massal: ini tradisi dari mana sih?

Apakah dari ajaran Islam langsung, atau hasil kreativitas nenek moyang kita yang memang hobi meracik budaya seperti chef Michelin bintang lima?

Kalau ditarik ke belakang, Idulfitri sendiri sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad SAW.

Tepatnya tahun 2 Hijriyah setelah Perang Badar.

Saat itu, umat Islam merayakan dua kemenangan sekaligus: menang perang dan menang melawan hawa nafsu.

Sebuah kombinasi epik. Habis berperang, lanjut silaturahmi.

Dalam praktiknya, setelah salat Id, Nabi dan para sahabat saling mendoakan dan berbuat baik.

Ada semangat memaafkan, iya.

Namun, belum ada tuh yang kirim “Jika jemariku lebih cepat dari hatiku…” karena memang belum ada WA, apalagi paket data.

Masuk ke Nusantara, cerita jadi makin menarik.

Para wali, terutama Wali Songo, tidak datang dengan pendekatan “pokoknya ikut saya atau selesai”.

Mereka justru cerdas, mengawinkan ajaran Islam dengan budaya lokal.

Lahirlah tradisi seperti sungkeman. Awalnya budaya Jawa, lalu diberi ruh Islam.

Dari sini, minta maaf tidak hanya jadi urusan spiritual, tapi juga sosial dan budaya.

Kalau sekarang ada yang bilang “ini bid’ah”, mungkin beliau lupa, nenek moyangnya dulu juga kreatif, bukan sekadar penonton.

Kemudian masuk ke era keraton. Pada abad ke-18, Mangkunegara I bikin gebrakan: sungkeman massal alias pisowanan.

Semua bawahan kumpul, minta maaf serentak. Efisien, efektif, dan mungkin kalau zaman sekarang, sudah ada panitia, rundown, dan konsumsi.

Tradisi ini lalu turun ke masyarakat luas.

Dari istana ke kampung, dari raja ke rakyat, dari formal ke personal.

Indonesia memang jago dalam satu hal: menyebarkan tradisi sampai ke level “kalau tidak ikut, rasanya berdosa secara sosial”.

Lalu lahirlah istilah sakti: halalbihalal.

Ini bukan bahasa Arab murni, tapi hasil racikan lokal yang kemudian terasa sangat Islami.

Sudah muncul sejak awal abad ke-20, bahkan sempat diiklankan di majalah.

Coba bayangkan, zaman dulu saja sudah ada “halalbihalal jarak jauh”.

Bedanya, mereka pakai media cetak, bukan status story dengan backsound lagu religi remix DJ.

Versi paling populer datang dari tahun 1948, saat kondisi politik Indonesia panas dingin.

Para elite saling sindir, saling jegal, kurang lebih mirip timeline hari ini, hanya beda platform.

Lalu KH. Abdul Wahab Hasbullah memberi ide brilian ke Soekarno: kumpulkan mereka dalam satu forum, suruh saling memaafkan, beri nama halalbihalal.

Sederhana tapi jenius. Dosa politik diselesaikan dengan konsep spiritual.

Kalau sekarang, mungkin tinggal tambah tagar dan live streaming.

Di titik ini kita sadar, tradisi maaf-memaafkan bukan sekadar ritual tahunan.

Ia adalah hasil panjang sejarah, dari ajaran agama, akulturasi budaya, hingga kebutuhan politik.

Ya, politik. Karena ternyata, sejak dulu, maaf itu juga alat rekonsiliasi.

Bedanya, dulu dipakai untuk menyatukan bangsa, sekarang kadang dipakai untuk menyatukan citra.

Secara psikologis, memaafkan memang menyehatkan: mengurangi stres, menenangkan hati, bahkan menurunkan tekanan darah.

Namun, ada satu hal yang tidak tercantum di jurnal ilmiah: memaafkan tanpa perubahan perilaku itu seperti update status tanpa update sikap.

Tahun depan minta maaf lagi, dosa sama, template sama, hanya font yang beda.

Secara sosial, Idulfitri memberi kita identitas kolektif.

Tiba-tiba semua orang merasa satu frekuensi. Sama-sama ingin bersih, sama-sama ingin damai.

Bahkan yang setahun penuh debat politik sampai nyaris putus silaturahmi, bisa duduk satu meja, makan opor, lalu berkata, “sudah lah, kita maaf-maafan”.

Sebuah momen langka yang mungkin lebih sulit terjadi di ruang sidang daripada di ruang makan.

Pada akhirnya, tradisi ini luar biasa.

Ia membuat satu bangsa berhenti sejenak dari ribut, dari ego, dari kepentingan.

Walau hanya beberapa hari, setidaknya ada jeda.

Tinggal satu pertanyaan yang kadang menggantung di udara seperti sinyal WiFi tetangga.

Setelah semua maaf itu diucapkan, apakah benar kita berubah, atau hanya reset tahunan seperti aplikasi yang crash?

Kalau jawabannya yang kedua, tenang saja. Tahun depan kita ulang lagi.

Toh, template “mohon maaf lahir dan batin” tidak pernah kehabisan stok.

Baca Juga: Meski Diguyur Hujan, Salat Idulfitri di Ketapang Berlangsung Khidmat dan Lancar

Penulis: Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar