“Kegiatan ekonomi benar-benar hidup di pasar juadah ini, dengan tetap mencerminkan nilai-nilai religius,” katanya.
Menurut pandangan kepala daerah tersebut, pelaksanaan pameran bernuansa Islami pada tahun ini memiliki keistimewaan tersendiri karena semakin memperkuat identitas Kota Singkawang sebagai kota yang sangat menjunjung tinggi nilai toleransi. Hal itu terefleksikan secara visual dari perpaduan harmonis antara ornamen keagamaan dengan dekorasi khas perayaan Imlek dan Cap Go Meh yang turut menghiasi kawasan pusat kegiatan.
“Tahun ini Ramadan bertepatan dengan Imlek dan Cap Go Meh, sehingga memperkuat wajah Singkawang sebagai kota toleran,” ungkapnya.
Untuk menambah daya tarik pengunjung, selama penyelenggaraan pameran, panitia juga memasukkan sejumlah agenda budaya ke dalam rangkaian acara. Penampilan atraksi tradisional seperti Festival Meriam Karbit dan kesenian Laggum turut memeriahkan kegiatan, sekaligus menjadi bagian dari upaya konkrit pelestarian kearifan lokal masyarakat setempat.
Mengakhiri pidatonya, Wali Kota menaruh harapan besar agar penyelenggaraan kegiatan serupa ke depannya dapat terus dikembangkan secara kualitas. Ia meminta panitia untuk terus meningkatkan kreativitas dan inovasi acara, dengan tetap menjadikan agenda tahunan ini sebagai sarana merawat nilai-nilai kebersamaan, semangat religius, dan ikatan toleransi antarumat beragama yang telah terbangun di Kota Singkawang.
(*Red)














