“Tidak ada kelompok dominan dan tidak dominan. Kita semua adalah pemilik Kalimantan Barat, dan kita harus mencintainya,” tegasnya.
Pada momentum menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 ini, Wagub Kalbar turut mengingatkan bahwa esensi utama dari Nyepi tidak sebatas berdiam diri. Lebih dari itu, Nyepi adalah sarana ritual penyucian diri dari berbagai sifat dan energi negatif manusia.
“Jika hati kita bersih, saya yakin Kalimantan Barat akan menjadi provinsi yang indah dan sejahtera,” tambahnya.
Melihat tingginya antusiasme umat dan warga sekitar yang menyaksikan pawai, Krisantus berharap tradisi budaya ini dapat diselenggarakan dengan skala yang jauh lebih besar pada tahun-tahun berikutnya. Ia memproyeksikan kegiatan keagamaan ini mampu dikelola menjadi magnet daya tarik pariwisata daerah.
“Saya ingin ke depan lebih meriah, bahkan bisa dimulai dari Kantor Gubernur agar semakin menarik perhatian masyarakat dan wisatawan,” tutupnya.
Sebagai informasi, ogoh-ogoh merupakan karya seni patung raksasa yang secara visual melambangkan wujud Bhuta Kala atau perwujudan energi negatif di alam semesta. Tradisi pengarakan ini rutin dilaksanakan pada malam Pengerupukan atau tepat sehari sebelum perayaan Nyepi (H-1). Setelah selesai diarak keliling lingkungan, patung ogoh-ogoh tersebut kemudian dibakar hingga musnah sebagai simbolisasi penyucian diri umat manusia dan pembersihan lingkungan dari segala keburukan.
(*Red)
















