Dari Banjir hingga Karhutla, BNPB Rilis Laporan Rentetan Bencana di Berbagai Wilayah Indonesia

Hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan banjir yang menggenangi rumah dan akses jalan warga di Kabupaten Gresik, Senin (16/3). (Dok. BPBD Kabupaten Gresik)
Hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan banjir yang menggenangi rumah dan akses jalan warga di Kabupaten Gresik, Senin (16/3). (Dok. BPBD Kabupaten Gresik)

Baca Juga: Karhutla hingga Tanah Longsor, BNPB Laporkan Rentetan Bencana di Sejumlah Daerah

Insiden pertama yang disorot adalah musibah banjir di Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bencana hidrometeorologi basah yang dipicu hujan berintensitas tinggi pada Selasa (17/3/2026) ini berdampak signifikan pada 150 kepala keluarga atau sekitar 500 jiwa.

Meski saat ini genangan air dilaporkan telah berangsur surut, BPBD setempat terus melakukan pendataan dan koordinasi penanganan pascabencana.

Banjir juga merendam permukiman dan fasilitas umum di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, pada Senin (16/3/2026). Tingginya curah hujan ditambah buruknya sistem drainase memperparah dampak genangan air.

Sementara di Jawa Barat, banjir melanda Kabupaten Majalengka pada Rabu (18/3/2026) dan berdampak pada 332 kepala keluarga (969 jiwa).

Namun, BPBD melaporkan kondisi genangan di lokasi tersebut telah surut total. Masih di Jawa Barat, cuaca ekstrem di Kota Bandung pada hari yang sama menyebabkan satu orang luka berat dan satu luka ringan. Seluruh korban telah dievakuasi ke rumah sakit.

Di Pulau Sulawesi, kerusakan infrastruktur akibat angin kencang melanda Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada Rabu (18/3/2026). Kejadian ini berdampak pada 27 kepala keluarga, dengan rincian 5 unit rumah rusak berat, 2 rusak sedang, dan 20 rusak ringan.

Di Sulawesi Utara, gelombang pasang air laut menerjang Kabupaten Minahasa pada hari yang sama dan berdampak pada 40 keluarga. Ancaman pesisir juga terjadi di Kabupaten Halmahera Timur berupa abrasi pantai yang merusak 10 rumah warga dan 7 perahu nelayan.

Selain bencana hidrometeorologi basah, laporan kebencanaan BNPB juga menyoroti ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Di Provinsi Kalimantan Tengah, total luasan lahan terbakar sejak awal 2026 tercatat mencapai 318,92 hektare. Pada Rabu (18/3/2026), terdapat penambahan titik api di Kabupaten Kotawaringin Timur seluas 4,06 hektare.

Kondisi yang lebih masif terjadi di Provinsi Riau. Berdasarkan data per Rabu (18/3/2026), akumulasi luasan karhutla sejak 1 Januari 2026 telah menembus angka 2.343,10 hektare, dengan tambahan luasan lahan terbakar mencapai 127,8 hektare hanya pada hari tersebut. BNPB memastikan bahwa upaya pemantauan, termasuk patroli udara, terus digencarkan.

Menutup keterangannya, BNPB mengimbau seluruh pemerintah daerah dan lapisan masyarakat untuk tidak menurunkan tingkat kewaspadaan. Pemerintah daerah diminta untuk memastikan kesiagaan personel, logistik, dan peralatan mitigasi darurat guna mempercepat respons pengurangan risiko bencana di wilayah masing-masing.

(*Red)