Faktakalbar.id, LIFESTYLE – Setiap kali Idulfitri tiba, pemandangan antrean panjang di loket penukaran uang atau ramainya jasa penukaran uang di pinggir jalan menjadi hal yang lumrah.
Tradisi memberikan uang baru sebagai bagian dari Tunjangan Hari Raya (THR) atau angpau lebaran seolah telah menjadi kewajiban tidak tertulis di Indonesia.
Namun, pernahkah Anda bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang mencetuskan budaya bahwa uang lebaran haruslah lembaran yang masih kaku dan berbau harum khas uang baru?
Budaya ini sebenarnya merupakan hasil perpaduan unik antara ajaran agama, tradisi sejarah, hingga pengaruh budaya pendatang yang telah berasimilasi selama ratusan tahun di Nusantara.
Baca Juga: Bermula dari Kabinet Sukiman, Ini Sejarah Lahirnya THR di Indonesia yang Perlu Kamu Tahu
Berikut adalah penelusuran mengenai akar budaya pemberian uang baru saat lebaran:
1. Adaptasi Budaya Tionghoa (Angpau)
Secara historis, tradisi memberikan uang dalam amplop merah atau angpau saat hari raya Imlek telah lebih dulu eksis di Indonesia.
Para pedagang dan pendatang dari Tiongkok membawa tradisi ini sebagai simbol berbagi keberuntungan.
Seiring berjalannya waktu, masyarakat pribumi mengadaptasi kebiasaan ini ke dalam perayaan Idulfitri, namun dengan sentuhan lokal dan nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya sedekah.
2. Simbol Keberhasilan dan Kebersihan
Dalam filosofi masyarakat Indonesia, lebaran adalah momen “kembali ke fitrah” atau suci.
Segalanya diharapkan serba baru, mulai dari pakaian, hati yang bersih, hingga uang yang diberikan kepada anak-anak.
Uang baru dianggap sebagai representasi fisik dari semangat pembaruan tersebut.
Memberikan uang yang kusam atau kotor di hari yang suci dirasa kurang pas bagi sebagian besar orang.
3. Peran Pemerintah di Era 1950-an
Secara formal, istilah THR sendiri baru muncul di era Kabinet Sukiman pada tahun 1951.
Namun, pada masa itu, pemerintah juga berperan dalam mendorong peredaran uang melalui kebijakan moneter menjelang hari besar.
Kebiasaan bank sentral (Bank Indonesia) yang menyediakan layanan penukaran uang baru secara khusus setiap ramadhan semakin memperkuat budaya ini di tengah masyarakat.
















