Tanggul Jebol Ratusan Rumah Terendam, BPBD Tangani Banjir di Nganjuk

Kondisi permukiman warga di Kelurahan Kapas, Sukomoro yang terendam banjir akibat curah hujan tinggi dan jebolnya tanggul.
Kondisi permukiman warga di Kelurahan Kapas, Sukomoro yang terendam banjir akibat curah hujan tinggi dan jebolnya tanggul. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Baca Juga: BNPB Laporkan Rangkaian Banjir dan Angin Kencang di Sejumlah Wilayah Indonesia

Direktorat Koordinator Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan data sementara hingga Selasa (17/3/2026) pagi yang menunjukkan besarnya skala dampak di wilayah tersebut. Kejadian banjir di Nganjuk ini tercatat telah berdampak langsung pada 300 Kepala Keluarga (KK).

Selain itu, debit air yang terus meningkat mengakibatkan sedikitnya 150 unit rumah milik warga terendam banjir, serta menyebabkan satu titik tanggul penahan air dilaporkan jebol akibat tak mampu menahan derasnya arus.

Menyikapi eskalasi bencana banjir di Nganjuk, tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah turun ke lokasi kejadian untuk melakukan proses pendataan secara komprehensif. Pihak BPBD juga terus menjalin koordinasi lintas sektor guna melakukan langkah-langkah penanganan darurat dan penyaluran bantuan di wilayah yang paling parah terdampak genangan air.

Insiden di Kabupaten Nganjuk ini merupakan bagian dari tingginya tren bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, cuaca ekstrem, dan longsor yang mendominasi di berbagai daerah di Indonesia belakangan ini. Menyikapi potensi bahaya hidrometeorologi yang masih cukup tinggi, BNPB secara konsisten mengimbau jajaran pemerintah daerah dan elemen masyarakat untuk tetap waspada terhadap anomali cuaca.

BNPB menegaskan, apabila terjadi hujan lebat yang berkepanjangan atau terpantau adanya tren kenaikan tinggi muka air di area aliran sungai, warga harus segera meningkatkan kewaspadaan sejak dini, dimulai dari skala keluarga dan lingkungan rumah masing-masing. Langkah antisipatif ini dinilai sangat penting untuk meminimalisasi risiko jatuhnya korban maupun kerugian material yang lebih besar.

Untuk mempercepat respons, BNPB berharap masyarakat dapat secara aktif melakukan aksi dini berdasarkan peringatan bahaya hidrometeorologi yang dirilis oleh otoritas terkait. Di samping upaya kesiapsiagaan di tingkat keluarga, pemanfaatan jejaring komunikasi di tingkat desa menjadi sangat esensial. Penggunaan WhatsApp group dan komunikasi radio komunikasi dua arah (handheld transceiver) yang dikelola secara terpusat oleh BPBD bersama aparatur pemerintah di tingkat kecamatan dan desa menjadi salah satu mekanisme yang terbukti efektif untuk menyampaikan peringatan dini bahaya kepada masyarakat secara cepat dan akurat.

(*Red)