Baca Juga: Tanggul Jebol Ratusan Rumah Terendam, BPBD Tangani Banjir di Nganjuk
Dampak dari banjir di Mojokerto ini terpantau meluas hingga mencakup lima desa yang tersebar di tiga kecamatan berbeda.
Wilayah terdampak tersebut meliputi Desa Sumbergirang di wilayah Kecamatan Puri, Desa Gayaman di wilayah Kecamatan Mojoanyar, serta rentetan Desa Jotangan, Desa Kebondalem, dan Desa Kedunggempol yang seluruhnya berada di Kecamatan Mojosari.
Direktorat Koordinator Pengendalian Operasi (Dit. Koordalops) BNPB melaporkan pada Selasa (17/3/2026) bahwa genangan air bah tersebut membuat 175 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 300 jiwa terdampak langsung. Dalam proses tanggap darurat, sebanyak 12 warga sempat dievakuasi untuk mengungsi di Balai Dusun Tambakrejo. Namun, perkembangan terkini menyebutkan bahwa para pengungsi tersebut kini telah diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing.
Lebih lanjut, laporan dari BPBD setempat mengonfirmasi besarnya kerugian materiil akibat kejadian banjir di Mojokerto. Tercatat sebanyak 125 unit rumah warga terendam, bangunan tanggul sepanjang 15 meter jebol diterjang arus, akses jalan desa terputus genangan, hingga 32 hektare lahan persawahan produktif milik petani ikut terdampak.
Merespons kedaruratan bencana hidrometeorologi ini, BPBD Provinsi Jawa Timur bersama BPBD Kabupaten Mojokerto bergerak cepat melakukan penanganan di lapangan. Petugas gabungan langsung melakukan evakuasi warga terdampak banjir dengan mengerahkan unit perahu berbahan fiber. Selain itu, petugas juga menyalurkan bantuan logistik, melakukan penyisiran serta pendataan di lokasi terdampak, hingga menghidupkan mesin pompa air berskala besar guna mempercepat surutnya genangan.
Menyikapi tingginya potensi bahaya cuaca ekstrem ini, BNPB mengimbau seluruh elemen masyarakat dan pemerintah daerah untuk tidak lengah. BNPB menegaskan, apabila curah hujan tinggi terus berlanjut dan memicu naiknya debit air, langkah kewaspadaan mulai dari skala rumah tangga harus segera ditingkatkan. Bagi warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruang, dilarang keras untuk mendekati area pepohonan besar saat hujan deras dan angin kencang melanda.
Masyarakat didorong untuk melakukan aksi tanggap dini dalam merespons peringatan ancaman hidrometeorologi. Kolaborasi informasi melalui grup komunikasi warga maupun operasional radio komunikasi yang dijembatani oleh BPBD dan aparat desa diharapkan dapat menjadi ujung tombak dalam meminimalisasi fatalitas bencana di tingkat akar rumput.
(*Red)
















