Faktakalbar.id, INTERNASIONAL – Tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin memanas menyusul pergerakan mendesak kapal serbu amfibi Amerika Serikat, USS Tripoli (LHA-7), menuju Teluk Persia.
Kapal perang yang membawa kekuatan penuh peperangan udara tersebut diprediksi akan tiba di sekitar Pulau Kharg atau Selat Hormuz untuk merespons eskalasi konflik di kawasan, Rabu (18/3/2026).
Baca Juga: Pesawat Tanker Amerika Serikat Jatuh di Irak, Militer AS Bantah Klaim Serangan Milisi
Berdasarkan analisis citra satelit terbaru dari Open Source Intelligence (OSINT) MT Anderson, pengerahan kapal kelas America ini bukanlah sekadar latihan rutin.
USS Tripoli yang didampingi dua kapal perusak kelas Arleigh Burke terpantau memacu mesinnya menuju pusat konflik Timur Tengah dengan kecepatan maksimal 22 knot.
Kapal yang sebelumnya berada di bawah kendali Armada ke-7 AS di Pasifik ini terdeteksi bertolak dari Laut Filipina.
Pada 15 Maret lalu, posisinya termonitor di perairan Laut China Selatan dan diperkirakan tiba di perairan Timur Tengah dalam kurun waktu 9 hingga 10 hari, tepatnya pada 24 atau 25 Maret mendatang.
Pengerahan kekuatan ini dinilai memiliki target strategis, salah satunya adalah ancaman terhadap Pulau Kharg, Iran.
Pulau ini mengendalikan hampir 90 persen ekspor minyak Iran ke penjuru dunia.
Namun, sebelum mencapai kawasan tersebut, militer AS diprediksi akan mengamankan gugusan pulau di Selat Hormuz terlebih dahulu untuk memastikan jalur navigasi armada Barat tetap terbuka dari ancaman blokade Teheran.
Berbeda dengan kapal amfibi biasa, USS Tripoli membawa doktrin peperangan yang bertumpu pada superioritas udara.
Sebagai varian Flight 0, kapal ini tidak dilengkapi well deck untuk meluncurkan kendaraan lapis baja amfibi, sehingga skenario pendaratan tank dikesampingkan.
Baca Juga: Jelang Lebaran, Pedagang di Pontianak Mulai Kebanjiran Pesanan Mukena
Sebagai gantinya, AS menyiapkan skenario serangan kilat (blitzkrieg) dari udara.
Sebanyak 1.700 Marinir dari Unit Ekspedisi Marinir ke-31 disiagakan untuk diterjunkan langsung ke titik-titik strategis menggunakan pesawat tiltrotor MV-22B Osprey, dengan dukungan perlindungan udara dari jet tempur siluman F-35B dan helikopter serang AH-1Z.
Jika serangan militer terbuka benar-benar dieksekusi, guncangan hebat dipastikan akan merambat ke pasar energi dunia.
Gangguan pada fasilitas terminal di Pulau Kharg akan langsung melambungkan harga minyak mentah dunia, memicu inflasi energi global, dan memengaruhi ekonomi negara-negara Barat.
Kini, dunia internasional tengah mengamati apakah pengerahan kekuatan armada amfibi ini sekadar gertakan militer, atau persiapan taktis yang berpotensi memicu perang kawasan yang lebih luas di Timur Tengah.
(FR)
















