Ahli Ingatkan Pentingnya Mitigasi di Kalimantan Buntut Peristiwa Gempa di Sintang

"Gempa tektonik bermagnitudo 5,3 mengguncang wilayah Kayan Hilir, Sintang pada Jumat (13/3/2026) dini hari. BMKG memastikan gempa akibat Sesar Adang ini tidak berpotensi tsunami."
Gempa tektonik bermagnitudo 5,3 mengguncang wilayah Kayan Hilir, Sintang pada Jumat (13/3/2026) dini hari. BMKG memastikan gempa akibat Sesar Adang ini tidak berpotensi tsunami. (Dok. BMKG)

“Dari sana jalurnya diperkirakan menerus ke pedalaman pulau menuju wilayah Sintang, Sekadau, hingga Sanggau. Patahan ini kemudian diperkirakan berlanjut menuju kawasan perbatasan di sekitar Entikong dan tersambung dengan sistem struktur geologi di wilayah Kuching, Sarawak,” ucapnya.

Terkait sifat guncangannya, Daryono menyebut gempa dari sesar lokal memiliki karakteristik yang berbeda dengan gempa di zona subduksi.

“Magnitudonya cenderung lebih kecil, tetapi kedalamannya dangkal sehingga potensi guncangan lokal bisa relatif signifikan. Seperti gempa Jumat (13/3/2026) hingga menyebabkan warga terbangun dan lari berhamburan keluar rumah. Dalam konteks ini, ancaman gempa di Kalimantan lebih bersifat lokal dan sporadis, bukan gempa besar yang sering terjadi seperti di wilayah barat Indonesia,” paparnya.

Daryono menekankan, meski tak seaktif sesar di Sumatra atau Jawa, Sesar Adang tetap memicu gempa-gempa bermagnitudo kecil hingga sedang.

“Beberapa gempa lokal yang tercatat di wilayah Kalimantan Barat, khususnya di sekitar Sintang dan Sekadau, sering dikaitkan dengan aktivitas sesar ini. Gempa-gempa tersebut umumnya memiliki magnitudo kecil hingga sedang, namun karena berasal dari sumber yang dangkal di kerak bumi, sebagai gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) getarannya dapat terasa cukup kuat di wilayah sekitar episenter,” ucapnya.

“Dengan demikian, Sesar Adang menjadi pengingat bahwa stabilitas tektonik Kalimantan bersifat relatif, bukan absolut. Aktivitas gempanya memang jarang dan umumnya kecil, tetapi keberadaannya tetap menandakan bahwa proses dinamika bumi masih berlangsung di bawah pulau yang selama ini dianggap paling stabil di Indonesia. Kesadaran terhadap potensi gempa lokal ini menjadi bagian penting dalam membangun Kalimantan yang aman dan tangguh terhadap bencana,” tegas Daryono.

Menutup penjelasannya, Daryono menuturkan bahwa stabilitas Kalimantan dipengaruhi posisinya di bagian interior Paparan Sunda.

“Berbeda dengan Sumatra dan Jawa yang dipengaruhi langsung oleh interaksi antara tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, Kalimantan berada di wilayah kerak yang relatif stabil. Akibatnya, deformasi tektonik yang terjadi lebih lemah dan jarang memicu gempa besar,” terangnya.

“Namun demikian, struktur patahan lama seperti Sesar Adang tetap dapat mengalami reaktivasi akibat tegasan regional yang bekerja di kerak bumi,” kata Daryono.

Baca Juga: Guncangan Sesar Adang di Sintang, Gempa Tektonik M3,2 Terjadi di Kedalaman Dangkal

(*Red)