Faktakalbar.id, SINTANG – Peristiwa gempa di Sintang dengan magnitudo 5,0 yang mengguncang wilayah Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat pada Jumat (13/3/2026) pukul 03:04:04 WIB lalu, mematahkan mitos bahwa Pulau Kalimantan sepenuhnya bebas dari ancaman kegempaan.
Guncangan tektonik kerak dangkal tersebut dirasakan cukup kuat hingga ke wilayah Sanggau Katingan, Melawi, serta beberapa daerah lain di Kalimantan Tengah.
Baca Juga: Gempa Tektonik M 5,3 Guncang Sintang Dini Hari, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Anggota Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN), Daryono, menegaskan bahwa rentetan gempa di Sintang memperpanjang catatan aktivitas seismik di Kalimantan. Sebelumnya, gempa tercatat pernah mengguncang wilayah ini pada 23 Januari 2026 (M4,8), 22 Februari 2020 (M3,0), dan 27 Maret 2019 (M3,1).
“Selama ini Kalimantan sering dipersepsikan sebagai wilayah yang hampir bebas gempa. Dibandingkan kawasan lain di Indonesia seperti Sumatra, Jawa, dan Sulawesi yang berada di sekitar zona subduksi/ megathrust aktif, aktivitas kegempaan di Kalimantan memang jauh lebih rendah. Namun demikian, rendahnya frekuensi gempa tidak berarti wilayah ini sepenuhnya steril dari aktivitas tektonik,” kata Daryono seperti dilansir CNBC, Senin (16/3/2026).
Menurut Daryono, pesatnya pembangunan infrastruktur di Kalimantan menuntut adanya mitigasi bencana yang serius.
“Walaupun probabilitas gempa besar kecil, prinsip kehati-hatian tetap diperlukan karena gempa kerak dangkal dapat menimbulkan dampak signifikan jika terjadi di dekat kawasan permukiman atau fasilitas vital. Infrastruktur modern, kawasan industri, hingga kota-kota yang berkembang di Kalimantan tetap memerlukan pendekatan mitigasi berbasis risiko,” tegas Daryono.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa gempa lokal di Kalimantan Barat diduga kuat bersumber dari Sesar Adang.
“Sesar Adang merupakan struktur patahan regional yang memanjang di Pulau Kalimantan dari pesisir timur hingga ke bagian barat laut pulau. Terusan Sesar Adang ada di daerah Lupar yang merupakan perbatasan antara Kalimantan Barat dan Sarawak di dekat kota Kuching,” jelas Daryono.
“Status umur Sesar Adang secara umum diinterpretasikan sebagai sesar tua yang berkembang sejak Tersier, bukan sesar Kuarter yang sangat aktif seperti banyak sesar di Jawa atau Sumatra,” tambahnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) ini menerangkan bahwa jalur patahan tersebut membentang dari Teluk Adang di Kalimantan Timur, menembus pedalaman hingga ke perbatasan negara.
















