Ia mengonfirmasi perusahaan sedang menyiapkan teknologi pengganti HP berbasis Android dan iOS.
Lei Jun memprediksi masa depan teknologi tidak lagi bergantung pada smartphone konvensional, melainkan beralih pada Artificial Intelligence Operating System (AIOS).
Sistem operasi berbasis kecerdasan buatan ini akan mengubah cara kerja perangkat komunikasi secara fundamental.
Menurutnya, AIOS tidak hanya menerima peningkatan fitur biasa. Sistem canggih ini memiliki kemampuan belajar dan bertindak secara otonom.
Perangkat masa depan tidak lagi sekadar merespons perintah pengguna secara pasif layaknya ponsel saat ini.
Pernyataan Lei Jun ini sekaligus menepis opini banyak analis yang menilai inovasi smartphone saat ini sudah mencapai titik jenuh dan membosankan. Lei Jun membantah keras anggapan tersebut.
Ia menegaskan industri teknologi justru sedang memasuki masa transisi menuju inovasi besar-besaran, yang tentunya membutuhkan komitmen riset dan pengembangan (R&D) tingkat tinggi.
Mengutip pemaparan strategi terbaru perusahaan, Xiaomi tidak sekadar melempar wacana. Raksasa teknologi asal China ini menyiapkan dana riset yang sangat masif.
Xiaomi menggelontorkan investasi mencapai 200 miliar yuan (sekitar Rp 490 triliun) khusus untuk lima tahun ke depan guna merealisasikan teknologi canggih ini.
Pengembangan AIOS Xiaomi bertumpu pada teknologi “Agentic AI”. Berbeda dari chatbot biasa, Agentic AI tertanam langsung di lapisan dasar sistem operasi (seperti pada HyperOS).
Teknologi ini membuat perangkat mampu memahami niat pengguna, menyusun rencana harian, hingga mengeksekusi berbagai tugas lintas aplikasi secara mandiri tanpa menunggu instruksi berulang dari pengguna.
Meskipun pengembangan perangkat keras skala besar dan kerangka perangkat lunak AIOS masih membutuhkan proses panjang, Lei Jun tetap menatap optimis.
Ia mengirim sinyal kuat kepada para kompetitor bahwa era baru komunikasi cerdas telah Xiaomi mulai.
(*Sr)
















