Uji Coba KN-25, Korea Utara Kerahkan 12 Peluncur Roket Nuklir Taktis Raksasa

Kim Jong-un menyaksikan barisan 12 sistem peluncur roket multilaras KN-25 Korea Utara dalam latihan tempur jarak jauh. (Dok. HO/Faktakalbar.id)
Kim Jong-un menyaksikan barisan 12 sistem peluncur roket multilaras KN-25 Korea Utara dalam latihan tempur jarak jauh. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, PYONGYANG – Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, memantau langsung latihan serangan jarak jauh yang melibatkan dua belas sistem peluncur roket multilaras (MLRS) KN-25 kaliber 600 mm.

Baca Juga: Gagal Mitigasi Banjir, Kim Jong Un Eksekusi Mati 30 Pejabat Korea Utara

Uji coba senjata yang diklaim memiliki tingkat “ultrapresisi” ini dilakukan sebagai bagian dari penguatan doktrin serangan presisi militer Pyongyang, Senin (16/3/2026).

Latihan ini menandai penggunaan sistem KN-25 dalam skala terbesar yang pernah diakui secara publik.

Dalam kesempatan tersebut, Kim Jong-un didampingi oleh putrinya untuk menyaksikan kemampuan penghancuran dari senjata yang dijuluki sebagai peluncur roket “kaliber ultrabesar” tersebut.

Para analis pertahanan menilai sistem KN-25 berada di “zona abu-abu” karena mengaburkan batas antara artileri tradisional dan rudal balistik jarak pendek (SRBM).

Dengan kaliber 600 mm, panjang mencapai 8,6 meter, dan jangkauan tembak hingga 400 kilometer, senjata ini mampu menjangkau pangkalan udara regional serta infrastruktur komando penting di semenanjung Korea.

Penggunaan 12 peluncur secara bersamaan menunjukkan kemampuan penembakan skala besar yang terkoordinasi.

Baca Juga: Eskalasi Timur Tengah: Israel Kembali Dicecar Serangan Rudal Iran

Mengingat setiap kendaraan peluncur dapat membawa empat hingga enam roket, formasi ini berpotensi melepaskan puluhan roket berpemandu dalam satu salvo untuk melumpuhkan sistem pertahanan rudal lawan.

Sejak tahun 2022, Korea Utara telah menegaskan bahwa KN-25 bukan sekadar artileri konvensional, melainkan platform utama untuk pengiriman senjata nuklir taktis dengan hulu ledak Hwasan-31.

Hal ini meningkatkan level ancaman terhadap situs-situs strategis seperti radar dan baterai pertahanan rudal Patriot maupun THAAD milik Amerika Serikat dan Korea Selatan.

Sistem ini dipasang pada platform Transporter Erector Launcher (TEL) bergerak.

Teknologi ini memungkinkan pasukan Tentara Rakyat Korea (KPA) melakukan penyebaran, peluncuran, hingga relokasi dengan cepat, sehingga sulit dideteksi atau diserang balik oleh pihak lawan.

Modernisasi persenjataan ini merupakan bagian dari upaya luas Pyongyang dalam mengembangkan platform serangan presisi, menyusul diperkenalkannya rudal KN-23 dan KN-24 sebelumnya.

Fokus utama pengembangan ini adalah menciptakan proyektil yang mampu bermanuver dan menembus sistem pencegatan rudal modern.

(FR)