Eskalasi Timur Tengah: Israel Kembali Dicecar Serangan Rudal Iran

Sisa-sisa reruntuhan dan sebuah mobil yang terbalik akibat dampak serangan udara di kawasan Timur Tengah. (Dok. HO/Faktakalbar.id)
Sisa-sisa reruntuhan dan sebuah mobil yang terbalik akibat dampak serangan udara di kawasan Timur Tengah. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, RAMLA – Konflik bersenjata di Timur Tengah semakin menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan.

Wilayah central Israel kembali menjadi target utama serangan rudal massif dari Iran pada hari ke-16 pertempuran, Minggu (15/3/2026).

Baca Juga: Iran vs Israel-Amerika Saling Menghancurkan Kilang Minyak, Siap-siap BBM Naik

Serangan proyektil tersebut ditembakkan secara langsung oleh Iran, menambah deretan ketegangan militer yang terus berlangsung di wilayah itu tanpa tanda-tanda mereda dalam waktu dekat.

Menurut laporan Aljazeera, Radio Angkatan Darat Israel menyatakan militer berhasil melakukan intersepsi dan mencegat sebagian besar rudal yang meluncur dalam gelombang serangan terbaru ini.

Kendati demikian, beberapa proyektil dilaporkan jatuh di area terbuka.

Informasi dari lokasi kejadian menyebutkan bahwa pecahan dari sistem pencegat rudal kemudian jatuh di kota Ramla, yang terletak di wilayah tengah Israel.

Insiden ini sempat memicu terjadinya kebakaran di lokasi tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai adanya korban jiwa akibat serangan itu.

Memasuki hari ke-16, pertempuran yang bermula dari serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026 telah menelan korban jiwa yang cukup besar.

Berdasarkan data terkini, total korban tewas kini telah melampaui angka 1.300 orang.

Baca Juga: Pesawat Tanker Amerika Serikat Jatuh di Irak, Militer AS Bantah Klaim Serangan Milisi

Tanggapan dari pihak Iran terkait situasi ini disampaikan oleh Javad Araghchi, yang sebelumnya menjabat sebagai Deputi Menteri Luar Negeri.

Dalam wawancara dengan program Meet the Press, Araghchi membandingkan situasi saat ini dengan kesepakatan gencatan senjata usai perang pada Juni tahun lalu, atau perang 13 hari, yang ia sebut telah dilanggar oleh AS-Israel.

“Dan sekarang Anda ingin meminta gencatan senjata lagi? Ini tidak akan berhasil seperti itu,” tegas Araghchi dalam wawancara tersebut.

Ia menekankan bahwa posisi Iran saat ini adalah mengupayakan solusi permanen untuk menghentikan konflik.