Opini  

Pelajaran Strategis Surah Al-Anbiya Ketika Manusia Lalai, Sejarah Mengingatkan

Ilustrasi AI - Menggali pelajaran berharga dari Surah Al-Anbiya tentang kelalaian manusia di dunia modern dan bagaimana menjadikannya momentum kesadaran spiritual. (Dok: HO/Faktakalbar.id)
Ilustrasi AI - Menggali pelajaran berharga dari Surah Al-Anbiya tentang kelalaian manusia di dunia modern dan bagaimana menjadikannya momentum kesadaran spiritual. (Dok: HO/Faktakalbar.id)
  • menahan diri

  • mengendalikan nafsu

  • mengingat Allah

  • memperbaiki akhlak

Ketika seseorang berpuasa dengan sungguh-sungguh, ia belajar bahwa hidup tidak hanya tentang memenuhi keinginan.

Ada tujuan yang lebih besar.

Ada kehidupan setelah dunia.

Surah Al-Anbiya mengajak manusia untuk kembali melihat kehidupan dengan perspektif akhirat.

Ketika Kebenaran Menghancurkan Kebatilan

Surah ini memberikan satu janji besar dari Allah.

“Kami lemparkan kebenaran kepada kebatilan hingga ia menghancurkannya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa dalam sejarah manusia selalu ada pertarungan antara kebenaran dan kebatilan.

Kadang kebatilan terlihat sangat kuat.

Ia memiliki:

  • kekuatan militer

  • kekuasaan politik

  • propaganda media

Tetapi kebatilan memiliki satu kelemahan besar.

Ia tidak memiliki fondasi kebenaran.

Karena itu, dalam jangka panjang, kebatilan selalu runtuh oleh kebenaran.

Penutup: Bangun Sebelum Terlambat

Surah Al-Anbiya dimulai dengan peringatan tentang kelalaian manusia.

Namun di balik peringatan itu, ada pesan harapan.

Selama manusia masih hidup, pintu tobat masih terbuka.

Baca Juga: Ketika Dunia Bergolak: Belajar dari Surah Al-Kahfi di Tengah Konflik Global

Selama hati masih bisa merasakan kebenaran, perubahan masih mungkin terjadi.

Ramadan adalah kesempatan emas untuk melakukan perubahan itu.

Karena pada akhirnya, kehidupan dunia hanyalah perjalanan singkat menuju pertemuan dengan Allah.

Dan ketika hari perhitungan benar-benar tiba, yang paling berharga bukanlah kekayaan, kekuasaan, atau popularitas.

Yang paling berharga adalah iman, amal saleh, dan hati yang hidup bersama Allah.

Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.