Opini  

Pelajaran Strategis Surah Al-Anbiya Ketika Manusia Lalai, Sejarah Mengingatkan

Ilustrasi AI - Menggali pelajaran berharga dari Surah Al-Anbiya tentang kelalaian manusia di dunia modern dan bagaimana menjadikannya momentum kesadaran spiritual. (Dok: HO/Faktakalbar.id)
Ilustrasi AI - Menggali pelajaran berharga dari Surah Al-Anbiya tentang kelalaian manusia di dunia modern dan bagaimana menjadikannya momentum kesadaran spiritual. (Dok: HO/Faktakalbar.id)

OPINI – Pada suatu pagi yang tenang di bulan Ramadan, ketika jemaah duduk bersila selepas salat Subuh, ada satu pertanyaan besar yang layak direnungkan: mengapa manusia sering lalai, padahal tanda-tanda kebenaran begitu jelas di depan mata?

Pertanyaan inilah yang menjadi pintu masuk dari pesan kuat Surah Al-Anbiya ayat 1–112. Surah ini tidak sekadar bercerita tentang para nabi, tetapi juga memberi peringatan tajam tentang kelalaian manusia terhadap hari perhitungan.

Ramadan adalah waktu yang tepat untuk membuka kembali pesan ini.

Dunia yang Semakin Sibuk, Hati yang Semakin Lalai

Surah ini dibuka dengan ayat yang mengguncang kesadaran manusia.

Iqtaraba linnāsi ḥisābuhum wa hum fī ghaflatin mu‘riḍūn

Artinya:

“Telah semakin dekat kepada manusia hari perhitungan, sementara mereka berada dalam kelalaian dan berpaling.”

Ayat ini terasa sangat relevan dengan kondisi dunia modern.

Manusia hari ini hidup di zaman yang luar biasa maju. Teknologi berkembang sangat cepat, informasi mengalir tanpa batas, ekonomi global bergerak setiap detik.

Namun di balik kemajuan itu, ada satu ironi besar.

Hati manusia semakin jauh dari kesadaran spiritual.

Orang bisa menghabiskan berjam-jam menatap layar ponsel, tetapi hanya beberapa menit untuk mengingat Allah. Manusia bisa sangat fokus pada karier, investasi, dan kekuasaan, tetapi sering lupa bahwa kehidupan ini memiliki batas.

Baca Juga: Ketika Allah Menenangkan Hati Musa: Pelajaran Surah Ṭāhā untuk Zaman yang Gelisah

Surah Al-Anbiya mengingatkan bahwa kelalaian bukan karena manusia tidak tahu, tetapi karena manusia terlalu sibuk dengan dunia.

Sejarah Nabi: Cermin Kelalaian Manusia

Salah satu kekuatan Surah Al-Anbiya adalah cara Allah menghadirkan sejarah para nabi sebagai pelajaran bagi umat manusia.

Surah ini menyebut banyak nabi:

  • Nabi Ibrahim

  • Nabi Nuh

  • Nabi Luth

  • Nabi Daud

  • Nabi Sulaiman

  • Nabi Ayyub

  • Nabi Yunus

  • Nabi Zakariya

  • Nabi Yahya

  • Nabi Isa

Semua nabi ini memiliki pengalaman yang sama.

Mereka datang membawa kebenaran, tetapi ditolak oleh umatnya.

Penolakan itu terjadi karena satu hal: manusia tidak ingin keluar dari zona nyaman.

Kaum Nabi Ibrahim tidak ingin meninggalkan berhala. Kaum Nabi Nuh menolak ajakan bertahun-tahun. Kaum Nabi Luth bahkan menentang hukum moral yang jelas.

Sejarah ini menunjukkan bahwa masalah manusia bukan kekurangan pengetahuan, tetapi kerasnya hati.

Kelalaian yang Terulang di Zaman Modern

Jika kita melihat dunia hari ini, pola yang sama masih terjadi.

Perang, konflik geopolitik, dan perebutan kekuasaan terus berulang. Manusia berlomba menguasai sumber daya, pengaruh, dan dominasi politik.

Padahal, sejarah para nabi sudah memberi pelajaran.

Ketika manusia terlalu percaya pada kekuatan dunia, mereka lupa bahwa semua kekuatan dunia bersifat sementara.

Surah Al-Anbiya mengingatkan:

Kullu nafsin dzāiqatu al-maut

“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian.”

Tidak ada manusia yang bisa menghindari kematian.

Tidak ada kekuasaan yang bisa bertahan selamanya.

Tidak ada kerajaan yang kekal.

Semua akan kembali kepada Allah.

Ramadhan: Momentum Bangun dari Kelalaian

Di sinilah Ramadan memiliki makna yang sangat penting.

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga membangunkan hati dari kelalaian.

Puasa melatih manusia untuk: