Bangun Stok Amunisi, Israel Borong 5.000 Bom SDB dari Boeing Senilai 289 Juta USD

Personel militer sedang memeriksa rangkaian bom GBU-39 Small Diameter Bomb (SDB) pada rak BRU-61A di pangkalan udara. (Dok. HO/Faktakalbar.id)
Personel militer sedang memeriksa rangkaian bom GBU-39 Small Diameter Bomb (SDB) pada rak BRU-61A di pangkalan udara. (Dok. HO/Faktakalbar.id)

Faktakalbar.id, TEL AVIVPemerintah Israel dilaporkan telah mencapai kesepakatan besar senilai 289 juta USD dengan perusahaan kedirgantaraan asal Amerika Serikat, Boeing.

Baca Juga: Eskalasi Timur Tengah: Israel Kembali Dicecar Serangan Rudal Iran

Kesepakatan tersebut mencakup akuisisi hingga 5.000 unit GBU-39/B Small Diameter Bomb (SDB) untuk memperkuat armada tempur mereka, Senin (16/3/2026).

Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari upaya sistematis Angkatan Udara Israel (IAF) untuk membangun kembali persediaan amunisi presisi.

Stok amunisi IAF dilaporkan mulai terkuras setelah rangkaian operasi militer berkepanjangan yang berlangsung di berbagai front regional.

Pihak IAF menyatakan bahwa efisiensi logistik di udara menjadi alasan utama pemilihan GBU-39.

Bom ini menggunakan sistem rak pintar BRU-61/A yang memungkinkan satu jet tempur membawa empat unit SDB di satu titik gantung yang biasanya hanya mampu menampung satu bom berat kelas 2.000 pon.

Baca Juga: Israel Gempur Permukiman Kristen di Beirut, Ancam Lebanon Bakal Dijadikan Seperti Gaza

Dengan kemampuan ini, jet tempur Israel dapat menyerang lebih banyak target dalam satu kali sorti terbang.

Hal ini dinilai sangat krusial dalam skenario pertempuran perkotaan yang padat atau saat harus melumpuhkan banyak posisi pertahanan udara lawan dalam waktu singkat.

GBU-39 merupakan amunisi berpemandu presisi kelas 250 pon yang dirancang untuk memberikan daya hancur optimal pada target tetap dengan risiko kerusakan kolateral yang rendah.

Bom ini dilengkapi pemandu canggih kombinasi INS/GPS serta teknologi anti-jamming SAASM.

Selain itu, SDB dapat dilepaskan dari jarak lebih dari 60 mil laut (110 km), sehingga pilot dapat menyerang dari luar jangkauan pertahanan udara musuh.

Meski berukuran kecil, hulu ledak bom ini sanggup menembus beton bertulang baja hingga ketebalan lebih dari 0,9 meter.

Awak pesawat juga dapat mengatur fuse elektronik dari kokpit untuk menyesuaikan jenis ledakan berdasarkan target, mulai dari bunker hingga infrastruktur logistik.

Mengacu pada pemberitaan Reuters, pengiriman ribuan bom ini dijadwalkan akan dimulai dalam 36 bulan ke depan.

Garis waktu tersebut mengindikasikan bahwa pembelian ini merupakan strategi pengisian ulang (replenishment) stok nasional jangka panjang, bukan paket respons mendadak terhadap konflik yang sedang berlangsung.

Saat ini, bom SDB telah terintegrasi penuh pada platform utama IAF seperti jet tempur F-15I Ra’am dan F-16I Sufa.

Dengan kepastian tambahan 5.000 unit ini, Israel berupaya memastikan kedalaman operasional (operational depth) mereka tetap terjaga guna menghadapi potensi kontingensi multi-front di masa depan.

(FR)