Antisipasi Respons Iran, AS Kerahkan 2.500 Marinir dan Kapal Perang ke Timur Tengah

Kapal induk amfibi USS Tripoli berlayar berdampingan dengan kapal perusak di laut lepas membawa jet tempur F-35B. (Dok. ISt)
Kapal induk amfibi USS Tripoli berlayar berdampingan dengan kapal perusak di laut lepas membawa jet tempur F-35B. (Dok. ISt)

Faktakalbar.id, WASHINGTON – Amerika Serikat mengerahkan sedikitnya 2.500 personel Marinir menggunakan tiga kapal perang amfibi dari wilayah Indo-Pasifik menuju Timur Tengah.

Langkah ini diambil seiring dengan meningkatnya ketidakpastian dalam pertempuran melawan Iran yang telah memasuki fase baru, Minggu (15/3/2026).

Baca Juga: Pesawat Tanker Amerika Serikat Jatuh di Irak, Militer AS Bantah Klaim Serangan Milisi

Pengerahan pasukan ekspedisi bergerak ini menambah kekuatan militer Amerika Serikat yang saat ini sudah mencapai lebih dari 50.000 personel di wilayah tersebut.

Penambahan kekuatan dilakukan saat Washington tengah mengevaluasi respons Iran terhadap operasi serangan udara gabungan AS dan Israel yang telah berlangsung selama hampir dua minggu.

Kehadiran ribuan Marinir ini memberikan kemampuan bagi AS untuk melakukan respons krisis secara cepat, patroli pencegahan, hingga dukungan serangan terbatas.

Formasi ini kabarnya berlayar dari Okinawa, lokasi Unit Ekspedisi Marinir (MEU) ke-31 ditempatkan, dan beroperasi sebagai bagian dari Amphibious Ready Group (ARG) Angkatan Laut AS.

Penguatan armada ini juga bertepatan dengan meningkatnya aktivitas militer Iran di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling krusial di dunia.

Serangan yang meningkat di dekat jalur penghubung Teluk Persia dan Laut Arab tersebut telah menekan rute pelayaran komersial serta memicu kekhawatiran pada pasar energi global.

Sejak kampanye militer dimulai pada 28 Februari lalu, lalu lintas kapal tanker di selat tersebut dilaporkan melambat akibat gangguan keamanan.

Baca Juga: Israel Intensifkan Serangan ke Iran Masuki Fase Berikutnya 80 Persen Pertahanan Udara Lumpuh

Kondisi ini berkontribusi langsung pada lonjakan harga minyak dunia serta kenaikan biaya bahan bakar di Amerika Serikat dan negara-negara pengimpor lainnya.

Dalam pengerahan kali ini, salah satu kapal utama yang dilibatkan adalah USS Tripoli, kapal serbu amfibi kelas America berbobot 45.000 ton.

Kapal ini berfungsi sebagai pusat penerbangan kelompok ekspedisi dan dioptimalkan untuk pengoperasian pesawat lepas landas pendek serta pendaratan vertikal.

Kekuatan udara yang dibawa mencakup pesawat tempur canggih Lockheed Martin F-35B Lightning II.

Pesawat siluman ini dilengkapi radar array pemindaian elektronik aktif AN/APG-81 dan mampu mengirimkan amunisi berpemandu presisi dengan radius tempur sekitar 450 mil laut, sekaligus menjalankan misi pengawasan udara di zona konflik.

(FR)