“Jika kita lihat harga acuan penjualan telur ayam ras sebesar Rp30.000, saat ini harga rata-rata nasional sudah mencapai Rp32.585, atau naik sekitar 1,81 persen,” terangnya.
Lonjakan harga yang lebih tinggi terjadi pada komoditas cabai.
“Harga acuan penjualan cabai rawit sebesar Rp57.000, sementara pada minggu kedua Maret 2026 harga rata-rata nasional sudah mencapai Rp72.897. Ini tentu perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
Terkait minyak goreng, Ateng mencatat adanya sedikit penurunan, meski harga eceran masih belum stabil.
“Harga minyak goreng pada minggu kedua Maret 2026 tercatat sekitar Rp19.315 per liter, turun sekitar 0,42 persen. Sementara untuk minyak goreng merek Minyak Kita saat ini berada di kisaran Rp16.386, meskipun masih di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan sebesar Rp15.700,” tutupnya.
Menyikapi arahan pusat dan data dari BPS, Sekda Kalbar Harisson memastikan kesiapan Pemprov Kalbar dalam menerapkan strategi pengendalian inflasi di Kalbar melalui sinergi lintas kelembagaan.
“Kita terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pihak, baik pemerintah kabupaten/kota, Bulog, distributor, maupun pelaku usaha agar pasokan bahan pangan tetap tersedia dan harga dapat terkendali,” ucapnya.
Harisson menegaskan bahwa Pemprov Kalbar tidak akan ragu untuk melakukan intervensi langsung ke pasar apabila ditemukan gejolak harga yang memberatkan masyarakat setempat.
“Apabila terjadi kenaikan harga yang signifikan di lapangan, tentu kita akan segera melakukan langkah-langkah pengendalian, seperti operasi pasar, penguatan distribusi, serta pengawasan terhadap ketersediaan barang,” tegasnya.
(*Red)
















