Faktakalbar.id, PONTIANAK – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar) melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Harisson mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Inflasi Nasional secara virtual dari Ruang Data Analisis Kantor Gubernur Kalbar, Kota Pontianak, pada Senin (16/3/2026).
Langkah strategis ini diambil guna memantapkan langkah pengendalian inflasi di Kalbar menjelang masuknya bulan suci Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.
Baca Juga: Stok Bahan Pokok Aman, Edi Rusdi Kamtono Imbau Warga Pontianak Tidak Panic Buying
Rakor tersebut dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi Tohir, dan diikuti oleh kepala daerah serta jajaran instansi terkait dari seluruh Indonesia.
Dalam arahannya, Tomsi menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok yang kerap melonjak akibat tingginya permintaan menjelang hari besar keagamaan.
“Kita memasuki periode yang cukup krusial, yaitu bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Pada periode ini biasanya terjadi peningkatan permintaan masyarakat terhadap sejumlah komoditas, sehingga perlu langkah pengendalian yang lebih intensif agar harga tetap stabil,” kata Tomsi.
Tomsi juga mengingatkan seluruh pemerintah daerah untuk memperkuat koordinasi lintas sektor bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna menjaga ketersediaan pasokan.
“Kami berharap pemerintah daerah terus aktif memantau perkembangan harga di lapangan. Jika ada indikasi kenaikan yang signifikan, segera lakukan langkah intervensi agar tidak berdampak pada daya beli masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Direktur Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, memaparkan tren Indeks Perkembangan Harga (IPH) nasional yang mulai merangkak naik.
“Atas dasar pemantauan kami sampai dengan 13 Maret 2026 atau minggu kedua bulan Maret, terdapat 222 kabupaten/kota yang mengalami peningkatan IPH. Angka ini meningkat dibandingkan minggu pertama Maret yang tercatat sebanyak 204 kabupaten/kota,” tuturnya.
Ateng merinci sejumlah komoditas pangan yang memicu inflasi di daerah.
“Komoditas yang perlu menjadi perhatian di antaranya telur ayam ras, cabai rawit, daging ayam ras, bawang merah, cabai merah, serta minyak goreng. Telur ayam ras mengalami kenaikan di 230 kabupaten/kota, cabai rawit di 199 kabupaten/kota, dan daging ayam ras di 192 kabupaten/kota,” jelasnya.
Ia mencontohkan harga telur ayam ras yang saat ini telah berada di atas batas acuan normal.
















