Opini  

Liberika di Malam Ramadhan dan Bayang-Bayang Perang Dunia

Ilustrasi - Konflik Timur Tengah terhadap ekonomi global dan mendesak pemerintah untuk fokus perkuat ketahanan energi nasional.
Ilustrasi - Konflik Timur Tengah terhadap ekonomi global dan mendesak pemerintah untuk fokus perkuat ketahanan energi nasional. (Dok. Gusti Hardiansyah)

Artinya Indonesia tidak boleh larut dalam logika blok kekuatan besar. Kita bukan bagian dari NATO, bukan pula bagian dari aliansi militer Timur. Posisi terbaik Indonesia adalah tetap konsisten pada prinsip bebas dan aktif—menjaga jarak dari konflik, tetapi aktif memperjuangkan perdamaian.

Namun refleksi Ramadhan malam ini juga membawa kita pada pertanyaan yang lebih jujur: apakah bangsa ini terlalu sibuk memperhatikan konflik dunia, sementara pekerjaan rumah di dalam negeri masih menumpuk?

Di warung kopi, masyarakat sering berbicara lebih sederhana tetapi lebih tajam daripada para analis geopolitik. Mereka tidak berbicara tentang strategi militer Iran atau teori hubungan internasional. Mereka berbicara tentang harga energi, lapangan kerja, dan keadilan hukum.

Ketahanan energi Indonesia, misalnya, masih menjadi pekerjaan besar. Negara dengan sumber daya alam melimpah ini masih bergantung pada impor energi. Di tengah dunia yang semakin tidak stabil, ketergantungan seperti ini menjadi kerentanan strategis yang tidak boleh dianggap remeh.

Program pembangunan sosial tentu penting. Program makan bergizi, peningkatan kesehatan masyarakat, dan penguatan pendidikan adalah investasi masa depan bangsa. Tetapi masyarakat juga menuntut sesuatu yang sama pentingnya: pemerintahan yang bersih dan hukum yang dipercaya rakyat.

Kasus-kasus korupsi yang muncul di berbagai sektor—dari bea cukai hingga lembaga penegak hukum—sering membuat publik bertanya: apakah reformasi birokrasi benar-benar berjalan?

Di ruang publik, berbagai polemik politik lama pun belum sepenuhnya reda. Salah satunya adalah kontroversi mengenai keabsahan dokumen pendidikan mantan Presiden Joko Widodo yang terus bergulir dalam gugatan, bantahan, dan perdebatan publik. Pada saat yang sama, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga tidak lepas dari sorotan terkait riwayat dokumen pendidikan dan penyetaraan yang dipersoalkan oleh sebagian pihak.

Dalam negara demokrasi, perkara seperti ini semestinya tidak dibiarkan menjadi kabut berkepanjangan. Jalan keluarnya bukan propaganda dan bukan pula pembungkaman, melainkan transparansi yang tuntas dan penjelasan yang terbuka.

Karena pada akhirnya, kekuatan bangsa tidak hanya ditentukan oleh posisi diplomatik di panggung dunia, tetapi oleh kepercayaan rakyat terhadap negara.

Azan maghrib akhirnya berkumandang. Saya menyeruput sisa kopi liberika yang mulai dingin.
Di tengah diskusi geopolitik para profesor dunia, satu pesan terasa semakin jelas: sebelum terlalu jauh berbicara tentang perang dunia, bangsa ini masih memiliki pekerjaan besar untuk menata rumahnya sendiri.

Dan mungkin, seperti yang diajarkan Ramadhan, perbaikan besar selalu dimulai dari kejujuran kepada diri sendiri.

Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.