“Dulu setelah berladang, masyarakat masih bisa mencari ikan di sungai atau sayur di kebun. Sekarang kebiasaan itu mulai berubah. Bahkan sayur kadang menunggu pedagang yang lewat,” ungkap Ageng.
Peran Perempuan yang Terabaikan
Kepala Dusun Pak Nungkat, Desa Sekabuk, Izhar, menyoroti bahwa peran besar perempuan dalam sektor pertanian sering kali belum diakui secara formal dalam kebijakan, padahal mereka memiliki kontribusi besar terhadap ketahanan pangan keluarga.
“Perempuan sebenarnya pelaku utama dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengurus anak, bertani, sekaligus membantu mencari penghasilan keluarga. Waktu mereka banyak dihabiskan di ladang, bahkan sejak pagi sampai sore,” tegas Izhar.
Izhar juga mengkritik praktik pertanian modern yang membuat petani semakin bergantung pada mesin dan bahan kimia, berbeda dengan pertanian lokal tradisional yang memanfaatkan bahan alami dari hutan.
Meskipun tekanan ekologis kian berat, riset ini menemukan bahwa perempuan desa menunjukkan daya tahan (resilience) yang kuat.
Mereka mampu beradaptasi dengan berbagai cara, termasuk mencari sumber penghasilan alternatif demi menjaga keberlangsungan hidup keluarga di tengah perubahan zaman.
Baca Juga: Berdayakan Perempuan Petani Punggur, Gemawan Salurkan Bibit dan Edukasi Ekosistem Berkelanjutan
(Mira)
















