Faktakalbar.id, PONTIANAK— Sepiring nasi di meja makan keluarga perdesaan ternyata menyimpan cerita panjang tentang perubahan lingkungan, pangan, hingga kehidupan perempuan.
Hal ini terungkap dalam paparan hasil riset Feminist Participatory Action Research (FPAR) yang dilakukan di Desa Sekabuk dan Desa Suak Barangan, Kecamatan Sadaniang, Kabupaten Mempawah, Jumat (13/3/2026).
Riset bertajuk “Advokasi Sepiring Nasi: Membaca Pengetahuan Lokal Perempuan Sadaniang di Tengah Krisis Ekologis dan Isu Ekstraktif” ini difasilitasi oleh Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM Indonesia) dengan dukungan Gemawan.
Perwakilan FAMM Indonesia di Kalimantan Barat, Caroline, menjelaskan bahwa pendekatan FPAR menempatkan perempuan sebagai subjek utama dalam proses riset.
Baca Juga: Gugat Dominasi Patriarki, Gemawan Soroti Nasib Perempuan Pengelola Alam yang Terhapus Administrasi
“Melalui proses FPAR, perempuan diajak merefleksikan pengalaman mereka dan mengenali persoalan yang dihadapi. Dari situ kita bisa melihat bahwa perempuan sebenarnya memiliki pengetahuan dan kekuatan yang besar untuk memperjuangkan kehidupan mereka,” katanya.
Senada dengan itu, Arniyanti, pegiat sosial Gemawan yang terlibat langsung dalam penelitian tersebut, menegaskan bahwa metode ini merupakan ruang bagi perempuan untuk menyuarakan realitas hidup mereka.
“FPAR sebenarnya bisa dilihat sebagai bentuk perjuangan perempuan untuk mempertahankan pengetahuan, hak, dan nilai yang mereka miliki. Melalui proses ini, perempuan tidak hanya menjadi objek penelitian, tetapi juga menjadi subjek yang menceritakan realitas hidup mereka sendiri,” ujar Arniyanti.
Pergeseran Pola Pangan dan Ketergantungan
Penelitian yang melibatkan 28 perempuan ini menunjukkan bahwa aktivitas ekstraktif telah mengubah hubungan masyarakat dengan sumber penghidupan mereka.
Menurut Arniyanti, di Desa Sekabuk, masyarakat mulai kesulitan mengelola ladang dan sawah secara mandiri, hasil panen menurun, serta meningkatnya ketergantungan pada bibit baru dan pupuk kimia.
Perubahan lanskap akibat kehadiran perusahaan sawit, seperti yang terjadi di Desa Suak Barangan, juga memengaruhi pola konsumsi.
Pegiat sosial Gemawan, Ageng, menyebutkan bahwa jika sebelumnya pangan berasal dari kebun dan sungai, kini masyarakat mulai bergantung pada pasar.
















