Opini  

Panic Buying Parah di Sambas, Warga Antre Mengular

"Fenomena panic buying BBM di Kabupaten Sambas membuat antrean mengular hingga 1 kilometer. Simak narasi satir warga lokal tentang drama stok Pertalite yang ludes dalam hitungan jam. "
Fenomena panic buying BBM di Kabupaten Sambas membuat antrean mengular hingga 1 kilometer. Simak narasi satir warga lokal tentang drama stok Pertalite yang ludes dalam hitungan jam. (Dok. Ist)

Kata Bupati, stok aman. Tapi, hitungan jam sudah ludes. “Yo, ngape tang goye!” kata urang Sambas. Simak narasinya sambil imagine seruput Koptagul, wak!

Sambas, (14/3/2026) ini, rakyat sedang menonton sebuah pertunjukan kolosal yang layak masuk festival teater absurd internasional. Antrean BBM yang panjangnya bukan main.

Panjangnya lebih dramatis dari cerita cinta LDR tiga benua. Lebih mengular dari ular kobra yang sedang yoga pilates.

Baca Juga: Edi Kamtono Minta Warga Pontianak Hindari Panic Buying

Lebih melelahkan dari menunggu transfer gaji yang katanya “sebentar lagi masuk”. Sejak subuh, warga sudah berjajar di SPBU seperti pasukan yang hendak menyerbu Benteng Konstantinopel.

Bedanya, yang direbut bukan kota suci, melainkan satu liter Pertalite. Motor-motor berdiri lunglai seperti prajurit kehabisan logistik.

Ada yang mogok di tengah jalan. Ada yang didorong seperti adegan sinetron penuh penderitaan.

Ada pula yang memilih mematikan mesin sambil menatap kosong ke cakrawala. Seolah sedang merenungkan makna kehidupan.

Antrean itu, konon mencapai satu kilometer. Bahkan sampai menutup jembatan dan merayap ke jalan nasional.

Jalan raya berubah menjadi museum kendaraan yang semuanya parkir dengan tujuan yang sama, menunggu bensin seperti menunggu wahyu turun dari langit.

Sementara itu di panggung utama, para pejabat tampil dengan wajah tenang seperti biksu yang sudah mencapai nirwana birokrasi.

Pertamina dan Bupati Satono dengan kalimat yang lembut, penuh optimisme, dan sedikit aroma pengharapan berkata, “Stok aman.

Terkendali. Alhamdulillah. Jangan panic buying ya.” Kalimat itu meluncur mulus seperti iklan sirup saat Ramadan.

Masalahnya, rakyat di lapangan mendengar kalimat itu sambil berdiri di antrean tiga jam, sehingga kata “aman” terasa seperti lelucon stand-up comedy yang terlalu dark.

Lihat saja peta pertempuran: SPBU Simpuan, Kartiasa, Rambi, Dungun Laut, Sungai Pinang.

Semua berubah menjadi tempat ziarah massal para pemburu Pertalite. Stok datang pagi seperti pahlawan berkuda putih, tetapi siangnya sudah ludes seperti gorengan gratis di rapat RT.

Pertalite yang katanya melimpah itu habis lebih cepat dari es krim di tengah terik khatulistiwa. Bahkan Pertamini pinggir jalan, yang biasanya menjadi superhero diam-diam bagi pengendara putus asa, sekarang ikut tumbang.

Harganya melonjak sampai Rp15.000 per liter. Selamat datang di zaman ketika bensin lebih mahal dari air mineral premium.

Lucunya, semua drama epik ini dipicu oleh satu monster bernama panic buying.

Konon kabarnya muncul dari berbagai sumber misterius, mungkin pernyataan menteri tentang stok nasional yang tinggal 25 hari, mungkin rumor global yang muter-muter seperti hantu urban legend, atau mungkin hanya pesan sakti dari grup WhatsApp tetangga yang berbunyi, “Pertalite habis sampai Lebaran!”

Begitu pesan itu meluncur, ribuan orang tiba-tiba berubah menjadi kolektor jeriken profesional. Tangki diisi penuh, besok datang lagi, lusa datang lagi, seperti ritual tahunan yang penuh semangat.

Hasilnya? Antrean makin menggila, kemacetan makin brutal, and emosi warga naik seperti grafik saham saat rumor merger. Ketika SPBU menutup pompa karena stok habis, terdengar keluhan, protes, bahkan tatapan dramatis ke arah langit.

Kapolda, Kapolres, Bupati, dan Pertamina pun tampil kompak seperti boyband keamanan nasional, “Tenang, jangan borong, stok aman, penimbun akan ditindak tegas.” Sayangnya, di tengah antrean, orang-orang lebih fokus menatap selang pompa daripada mendengarkan pidato moral.

Ironisnya, bangsa yang terkenal dengan slogan gotong royong ini tiba-tiba berubah menjadi mode survival ekstrem begitu mendengar isu kecil. Prinsipnya sederhana, borong dulu, mikir belakangan.

Akibatnya, yang benar-benar butuh BBM untuk kerja, antar anak sekolah, atau mencari nafkah justru paling menderita. Mereka antre berjam-jam di bawah matahari yang rasanya seperti oven raksasa.

Motor mogok, jadwal kerja kacau, dan harapan terasa setipis bensin di tangki. Di sisi lain, oknum yang membeli berjeriken-jeriken untuk dijual kembali justru tersenyum lebar di balik kios kecil mereka.

Bisnis berjalan lancar, margin keuntungan mekar seperti bunga di musim hujan. Tragis sekaligus komedi, stok sebenarnya aman, tetapi kepanikan kolektif berhasil mengubahnya menjadi neraka kecil di jalan raya.

Akhirnya, sambil duduk di atas motor yang tak kunjung maju, mungkin ada baiknya kita merenung sebentar. Betapa mudahnya manusia dikendalikan oleh ketakutan yang belum tentu nyata.

Betapa lucunya kita rela membuang waktu, tenaga, dan kesabaran demi satu jeriken penuh. Padahal kalau semua cukup mengambil seperlunya, mungkin besok pagi SPBU sudah kembali normal.

Namun begitulah negeri ini bekerja. BBM katanya aman, tetapi akal sehat sering kali yang habis lebih dulu.

Selamat mengantre, warga Sambas. Semoga tangki terisi sebelum Lebaran… atau sebelum kesabaran nasional benar-benar menguap seperti bensin di bawah matahari khatulistiwa.

Baca Juga: Stok Bahan Pokok Aman, Edi Rusdi Kamtono Imbau Warga Pontianak Tidak Panic Buying

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar