Opini  

Ketika Allah Menenangkan Hati Musa: Pelajaran Surah Ṭāhā untuk Zaman yang Gelisah

Ilustrasi - Surah Taha bukan sekadar kisah Nabi Musa, melainkan pesan spiritual untuk manusia modern dalam menemukan ketenangan hidup di tengah kegelisahan. (Dok. Ist)
Surah Taha bukan sekadar kisah Nabi Musa, melainkan pesan spiritual untuk manusia modern dalam menemukan ketenangan hidup di tengah kegelisahan.

OPINI – Pada suatu pagi yang sunyi setelah salat Subuh di bulan Ramadan, ketika cahaya matahari perlahan menyentuh dinding masjid, kita membuka mushaf dan membaca Surah Ṭāhā.

Surah ini bukan sekadar kisah sejarah tentang Nabi Musa, tetapi sebuah pesan spiritual yang sangat relevan untuk manusia modern yang hidup di tengah kegelisahan, konflik, dan ketidakpastian.

Surah ini dimulai dengan kalimat yang sangat lembut:

طه مَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْآنَ لِتَشْقَى

Tāhā. Mā anzalnā ‘alaika al-qur’āna litashqā.

Artinya: “Ṭāhā. Kami tidak menurunkan Alquran kepadamu agar engkau menjadi susah.” (QS Ṭāhā: 1–2).

Baca Juga: Ketika Dunia Bergolak: Belajar dari Surah Al-Kahfi di Tengah Konflik Global

Ayat ini adalah penghiburan langsung dari Allah kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Ketika Rasulullah menghadapi tekanan, penolakan, bahkan cemoohan dari kaum Quraisy, Allah menenangkan beliau: Alquran tidak diturunkan untuk memberatkan hidup manusia, tetapi untuk menjadi petunjuk yang menenangkan hati.

Pesan ini terasa sangat relevan hari ini. Di tengah kehidupan modern yang penuh kompetisi,

tekanan ekonomi, konflik politik, dan arus informasi yang tak pernah berhenti, banyak manusia yang hidup dalam keadaan gelisah dan kehilangan arah. Padahal Alquran telah hadir sebagai kompas kehidupan.

Surah Ṭāhā kemudian membawa kita pada kisah besar Nabi Musa, sebuah kisah tentang ketakutan, keberanian, dan kepercayaan kepada Allah.

Kisah itu dimulai ketika Musa dipanggil Allah di lembah suci Thuwa.

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي

Innanī anā Allāhu lā ilāha illā anā fa‘budnī.

“Sesungguhnya Aku adalah Allah. Tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku.” (QS Ṭāhā: 14)

Perjumpaan ini mengubah hidup Musa selamanya. Seorang penggembala sederhana dipilih Allah untuk menghadapi salah satu penguasa paling tiran dalam sejarah: Firaun.

Namun menariknya, sebelum menjalankan tugas besar itu, Musa tidak meminta kekuasaan, tidak meminta kekuatan militer, dan tidak meminta pasukan. Ia justru memohon sesuatu yang sangat manusiawi:

رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي

Rabbi ishraḥ lī ṣadrī.

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku.” (QS Ṭāhā: 25)

Doa ini kemudian dilanjutkan dengan permintaan yang sangat terkenal:

وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي

Wa yassir lī amrī. Wahlul ‘uqdatan min lisānī. Yafqahū qawlī.

“Permudahkanlah urusanku. Lepaskanlah kekakuan dari lidahku agar mereka memahami perkataanku.” (QS Ṭāhā: 26–28)

Inilah doa kepemimpinan yang paling indah dalam Alquran. Musa menyadari bahwa menghadapi tirani tidak hanya membutuhkan keberanian, tetapi juga ketenangan hati dan kemampuan komunikasi yang baik.

Dalam kehidupan modern, doa ini terasa sangat relevan. Para pemimpin, guru, dosen, pejabat publik, bahkan orang tua dalam keluarga memerlukan kelapangan hati dan kejernihan komunikasi agar pesan kebaikan dapat dipahami.

Surah Ṭāhā juga memperlihatkan bagaimana kesombongan kekuasaan dapat menyesatkan manusia. Firaun adalah simbol klasik dari kekuasaan yang kehilangan moral.

Ia bahkan berkata dengan penuh kesombongan:

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَى

Ana rabbukumul a‘lā.

“Aku adalah tuhanmu yang paling tinggi.”

Kesombongan ini bukan sekadar kisah masa lalu. Dalam berbagai bentuk, kesombongan kekuasaan terus muncul dalam sejarah manusia.

Ketika kekuasaan tidak dibatasi oleh nilai moral dan spiritual, ia mudah berubah menjadi penindasan.

Namun Surah Ṭāhā juga menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu membutuhkan kekuatan besar untuk menang.

Nabi Musa menghadapi Firaun dengan iman, kesabaran, dan keyakinan kepada Allah.

Kisah ini juga memperlihatkan sisi lain dari kelemahan manusia. Ketika Musa pergi menerima wahyu di Gunung Sinai, sebagian Bani Israil tergoda oleh seorang tokoh bernama Samiri. Ia membuat patung anak sapi yang kemudian disembah oleh sebagian dari mereka.

Peristiwa ini menjadi pelajaran penting bahwa manusia mudah tersesat ketika kehilangan kepemimpinan spiritual.

Dalam kehidupan modern, “anak sapi Samiri” mungkin tidak lagi berupa patung. Ia bisa muncul dalam bentuk materialisme, kultus kekuasaan, atau bahkan teknologi yang dipuja tanpa moral.

Surah Ṭāhā kemudian memberikan peringatan yang sangat mendalam tentang kondisi manusia yang menjauh dari Allah.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Wa man a‘raḍa ‘an żikrī fa-inna lahu ma‘īsyatan ḍankā.

“Barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya kehidupan yang sempit.” (QS Ṭāhā: 124)

Ayat ini sangat menggugah. Kehidupan sempit tidak selalu berarti kemiskinan. Banyak manusia yang hidup dengan kekayaan, jabatan, dan kemewahan, tetapi tetap merasakan kesepian dan kegelisahan batin.

Alquran menjelaskan sebabnya: hati yang jauh dari zikir kepada Allah akan kehilangan ketenangan.

Karena itu, di bagian akhir surah, Allah memberikan pesan penting kepada Nabi Muhammad ﷺ:

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ

Faṣbir ‘alā mā yaqūlūn.

“Maka bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan.” (QS Ṭāhā: 130)

Kesabaran menjadi kunci kemenangan bagi orang yang berjalan di jalan kebenaran. Setiap perjuangan pasti menghadapi penolakan, kritik, bahkan fitnah.

Namun Surah Ṭāhā mengajarkan bahwa Allah selalu bersama orang yang tetap sabar dan istikamah.

Baca Juga: Dari Isra’ ke Peradaban: Pelajaran Subuh dari Surah Al-Isra (1-111)

Di tengah dunia yang semakin cepat, keras, dan penuh ketidakpastian, Surah Ṭāhā memberikan pesan yang sangat menenangkan: kembali kepada Allah adalah jalan untuk menemukan ketenangan hidup.

Seperti Nabi Musa yang memulai perjalanannya dengan doa dan kepercayaan kepada Tuhan, manusia modern juga perlu memulai hidupnya dengan ketenangan hati, kejujuran, dan kesabaran.

Karena pada akhirnya, sejarah selalu menunjukkan satu hal yang sama: kebenaran mungkin diuji, tetapi tidak akan pernah kalah.

Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar

*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.