5 Fakta Menyakitkan Menjadi Anak Bungsu: Dituntut Lebih Baik Saat Kakak Gagal hingga Kesepian

"Menjadi anak bungsu tidak selalu tentang kemanjaan. Simak 5 fakta menyakitkan mulai dari tuntutan saat kakak gagal hingga tekanan emosional yang jarang disadari."
Menjadi anak bungsu tidak selalu tentang kemanjaan. Simak 5 fakta menyakitkan mulai dari tuntutan saat kakak gagal hingga tekanan emosional yang jarang disadari. (Dok. Ist)

4. Menjadi “Tempat Sampah” Emosi Keluarga

Sering kali, karena dianggap paling fleksibel atau belum memiliki beban hidup seberat kakaknya, anak bungsu menjadi pendengar bagi keluh kesah seluruh anggota keluarga.

Mereka harus menampung konflik antar saudara atau masalah rumah tangga orang tua.

Namun, mereka sendiri sering tidak memiliki tempat untuk mengadu karena masalah mereka dianggap tidak ada apa-apanya dibanding masalah orang dewasa lainnya.

5. Merasa Tertinggal secara Emosional dan Kesepian

Saat anak bungsu mulai beranjak dewasa, anggota keluarga yang lain biasanya sudah sibuk dengan dunianya masing-masing; kakak yang sudah menikah atau orang tua yang mulai menua.

Ada perasaan loneliness karena mereka merasa tertinggal di rumah yang perlahan mulai sepi, sementara orang lain sudah jauh melangkah.

Selain itu, ada ekspektasi tidak tertulis bahwa si bungsulah yang harus mengalah pada mimpinya demi menjaga orang tua di masa tua.

Baca Juga: Belajar Arti Ketulusan, Ini 5 Hal Hangat dari Potret Kekeluargaan di Film The Impossible

(Mira)