Qāla innī ‘abdullāh “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah.” (QS Maryam: 30)
Kalimat ini sangat penting. Nabi Isa menegaskan bahwa dirinya adalah hamba Allah, bukan Tuhan. Dengan satu kalimat itu, Al-Qur’an meluruskan kesalahpahaman teologis yang kelak berkembang dalam sejarah manusia.
Pesan besar dari Surah Maryam adalah kesatuan ajaran para nabi. Setelah kisah Nabi Isa, Al-Qur’an menyebut Nabi Ibrahim, Musa, Harun, Ismail, dan Idris. Mereka semua membawa pesan yang sama: menyembah Allah semata.
Baca Juga: Dari Isra’ ke Peradaban: Pelajaran Subuh dari Surah Al-Isra (1-111)
Namun Surah Maryam juga memberikan peringatan keras tentang generasi yang datang setelah para nabi.
“Kemudian datang generasi setelah mereka yang menyia-nyiakan shalat dan mengikuti hawa nafsu.” (QS Maryam: 59)
Ayat ini sangat relevan dengan kondisi zaman modern. Ketika manusia semakin sibuk dengan urusan dunia, shalat sering menjadi hal pertama yang ditinggalkan. Padahal shalat adalah kompas spiritual yang menjaga arah kehidupan manusia.
Tanpa kompas itu, manusia mudah tersesat dalam ambisi, materialisme, dan egoisme.
Di bagian akhir surah, Al-Qur’an menolak keras keyakinan bahwa Allah memiliki anak. Bahkan digambarkan secara kosmik bahwa ucapan itu begitu berat hingga langit hampir pecah, bumi terbelah, dan gunung runtuh.
Ini bukan sekadar kritik teologis. Ia adalah peringatan bahwa tauhid adalah fondasi keseimbangan alam semesta. Ketika manusia kehilangan tauhid, ia kehilangan orientasi hidup.
Namun Surah Maryam tidak berakhir dengan ancaman. Ia ditutup dengan janji yang sangat indah.
Innal-ladzīna āmanū wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāt sayaj‘alu lahumur-raḥmānu wuddā “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, Allah akan menanamkan rasa cinta kepada mereka.” (QS Maryam: 96)
Ayat ini mengandung makna yang sangat menenangkan. Orang yang menjaga iman dan amal saleh akan diberikan wudd, yaitu cinta yang ditanamkan Allah di hati manusia. Mereka dicintai di bumi dan dimuliakan di langit.
Dalam dunia yang penuh persaingan dan konflik, manusia sering mengejar pengaruh dengan kekuasaan atau kekayaan. Surah Maryam mengajarkan jalan yang berbeda: cinta sejati datang dari kedekatan dengan Allah.
Karena itu, Surah Maryam sebenarnya adalah kisah tentang rahmat Allah yang mengalir dalam kehidupan manusia.
Dari doa Nabi Zakariya, keteguhan Maryam, mukjizat Nabi Isa, hingga nasihat kepada generasi setelah para nabi, semuanya menunjukkan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang beriman.
Di tengah kegaduhan dunia modern, Surah Maryam mengajarkan satu hal yang sangat sederhana namun mendalam: ketika manusia kembali kepada Allah dengan hati yang tulus, harapan selalu ada.
Dan harapan itulah yang membuat iman tetap hidup di setiap zaman.
Oleh: Gusti Hardiansyah, Ketua ICMI Orwil Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
















