Opini  

Maryam: Doa Sunyi, Tauhid Teguh, dan Harapan di Tengah Zaman Gelisah

Ilustrasi AI - Surah Maryam hadir sebagai oase spiritual di zaman modern. Mengajarkan bahwa doa, kesabaran, dan tauhid adalah fondasi hidup di tengah kegelisahan. (Dok. Ist)
Ilustrasi AI - Surah Maryam hadir sebagai oase spiritual di zaman modern. Mengajarkan bahwa doa, kesabaran, dan tauhid adalah fondasi hidup di tengah kegelisahan. (Dok. Ist)

OPINI – Setiap zaman memiliki kegelisahannya sendiri. Dunia modern hari ini dipenuhi konflik, kegaduhan informasi, serta ketidakpastian masa depan. Manusia sering merasa kuat karena teknologi dan ilmu pengetahuan, tetapi pada saat yang sama hatinya mudah gelisah.

Dalam situasi seperti itu, Surah Maryam (QS 19:1–98) hadir seperti oase spiritual yang menenangkan. Ia mengajarkan bahwa di tengah kerumitan kehidupan, doa, kesabaran, dan tauhid adalah fondasi yang tidak pernah berubah.

Surah ini dibuka dengan kisah seorang nabi tua yang berdoa dalam kesunyian.

Idz nādā rabbahū nidā’an khafiyyā “Ketika ia berdoa kepada Tuhannya dengan doa yang sangat lembut.” (QS Maryam: 3)

Baca Juga: Ketika Dunia Bergolak: Belajar dari Surah Al-Kahfi di Tengah Konflik Global

Nabi Zakariya tidak berteriak dalam doanya. Ia tidak memamerkan kesedihannya kepada manusia. Ia berbicara pelan kepada Tuhannya.

Umurnya telah lanjut, rambutnya memutih, dan istrinya telah lama mandul. Secara logika manusia, harapan memiliki anak hampir mustahil. Namun Nabi Zakariya tetap memohon.

Di sinilah pelajaran pertama dari Surah Maryam: doa tidak tunduk pada logika manusia, tetapi pada kekuasaan Allah.

Dalam kehidupan modern, manusia sering menilai kemungkinan hanya berdasarkan statistik dan kalkulasi rasional. Padahal bagi Allah, yang mustahil bagi manusia bukanlah hal yang sulit.

Allah menjawab doa itu dengan kelahiran Nabi Yahya, seorang nabi yang penuh kesucian dan kebijaksanaan sejak kecil.

Kisah berikutnya membawa kita kepada seorang perempuan suci yang namanya diabadikan menjadi nama surah ini: Maryam. Ia adalah simbol keteguhan iman dalam menghadapi ujian sosial yang sangat berat.

Maryam mengandung tanpa suami. Dalam masyarakat mana pun, tuduhan terhadap kehormatan seorang perempuan adalah ujian yang luar biasa. Bahkan Al-Qur’an menggambarkan betapa beratnya beban psikologis yang ia rasakan.

Yā laitani mittu qabla hādzā “Wahai, seandainya aku mati sebelum ini terjadi.” (QS Maryam: 23)

Ungkapan itu bukanlah keputusasaan terhadap Allah, tetapi gambaran betapa beratnya tekanan sosial yang ia hadapi. Namun di tengah penderitaan itu Allah memberikan pertolongan dengan cara yang lembut.

Maryam diperintahkan menggoyangkan batang pohon kurma.

Wa huzzī ilaiki bijidz‘in-nakhlah tusāqith ‘alaiki ruthaban janiyyā “Goyangkanlah batang pohon kurma itu, niscaya akan jatuh kepadamu kurma yang matang.” (QS Maryam: 25)

Padahal secara fisik, seorang wanita yang baru melahirkan hampir tidak mungkin menggoyangkan batang pohon.

Tetapi perintah ini mengandung pesan spiritual yang sangat dalam: mukjizat Allah tetap disertai usaha manusia. Dalam kehidupan modern, keberhasilan juga menuntut keseimbangan antara doa dan ikhtiar.

Kisah Maryam kemudian mencapai puncaknya ketika masyarakat menuduhnya. Ia tidak membela diri dengan kata-kata. Ia hanya menunjuk kepada bayi yang berada di pelukannya. Lalu terjadilah mukjizat: Nabi Isa berbicara ketika masih bayi.