Pembuatan Agen Khusus
Para pegawai juga memiliki kemampuan merancang agen khusus sesuai kebutuhan unit kerja mereka masing-masing. Pimpinan divisi teknologi perusahaan penyedia layanan, Jim Kelly, menyoroti kemudahan operasional sistem ini bagi pengguna saat menjalankan tugas.
“Pegawai Departemen Pertahanan juga dapat membuat agen khusus menggunakan bahasa alami,” jelas Jim Kelly.
Jutaan pegawai militer telah memanfaatkan portal kecerdasan buatan ini secara intensif sejak akhir tahun lalu. Mereka menjalankan puluhan juta instruksi unik dan mengunggah jutaan dokumen kerja ke dalam peladen komputasi.
Tingkat adopsi teknologi yang masif ini mendorong otoritas pertahanan mempercepat program pelatihan.
Mereka menargetkan puluhan ribu pegawai segera merampungkan sesi pelatihan agar mampu mengoperasikan sistem secara optimal.
Langkah ekspansi militer ini memicu penolakan keras dari kalangan pekerja sektor teknologi. Ratusan karyawan perusahaan pengembang menandatangani surat terbuka yang mendesak perusahaan mereka mempertahankan kebijakan etika kecerdasan buatan yang berpihak pada kemanusiaan.
Baca Juga: Google Gemini Makin Canggih, Bisa Jadi Asisten Pribadi
Para pekerja menolak keterlibatan teknologi mereka untuk keperluan pengawasan massal maupun sistem persenjataan otonom. Mereka menilai penggunaan teknologi kecerdasan buatan pada ranah militer berpotensi membahayakan warga sipil.
(*Sr)
















