OPINI – Mungkin kalian pernah mencaci, merasa muak, atau pemujanya. Abu Janda bisa dikatakan tokoh antagonis di dunia permedsosan. Bully, makian, adalah nyanyian syahdu baginya. Siapa sebenarnya beliau ini? Yok kita kenalan sambil imagine koptagul, wak!
Di alam semesta media sosial Indonesia, sebuah galaksi digital yang isinya campur aduk antara debat politik, meme receh, dan orang marah tanpa sebab, muncul satu karakter yang kehadirannya seperti meteor panas yang selalu berhasil menabrak linimasa.
Namanya Permadi Arya. Namun publik lebih mengenalnya dengan nama panggung yang terdengar seperti karakter legenda rakyat yang nyasar ke X, Abu Janda.
Baca Juga: Mengenal M. Fikri, Bupati Rejang Lebong yang Di-OTT KPK
Ia lahir di Cianjur pada 14 Desember 1973. Secara biografi, kisah hidupnya sebenarnya terdengar elegan. Bahkan hampir seperti brosur beasiswa internasional.
Ia pernah menghabiskan masa mudanya di Singapura, belajar di Informatics IT School, lalu melanjutkan studi hingga ke Inggris di University of Wolverhampton. Bidang yang ia tekuni bukan sembarangan, Ilmu Komputer serta Business & Finance.
Dua disiplin ilmu yang biasanya melahirkan orang orang serius yang hidupnya diisi dengan grafik ekonomi, analisis data, dan rapat yang penuh kata strategi.
Secara teori, kombinasi pendidikan seperti itu harusnya menghasilkan seseorang yang tenang, metodis, dan mungkin sibuk memantau indeks saham sambil minum kopi mahal di kantor kaca bertingkat.
Namun hidup Permadi Arya mengambil belokan yang bahkan penulis skenario film India pun mungkin akan menyerah mencoba menebaknya.
Setelah pulang ke Indonesia, ia sempat bekerja di berbagai sektor serius, dunia sekuritas, perbankan, hingga industri tambang batu bara. Dunia yang biasanya penuh angka, laporan keuangan, dan pembicaraan tentang investasi jangka panjang.
Akan tetapi di suatu titik sejarah hidupnya, ia melakukan transformasi karier yang begitu dramatis sehingga jika dijadikan grafik, garisnya pasti patah seperti detak jantung di film rumah sakit.
Ia berubah menjadi konten kreator. Bukan sembarang konten kreator. Ia spesialis dalam satu bidang langka, memproduksi kontroversi.
Di X, Abu Janda menjelma seperti generator badai digital. Setiap cuitannya terasa seperti batu yang dilempar ke sarang lebah nasional. Reaksinya selalu sama.
Warganet langsung berkerumun, sebagian marah, sebagian menertawakan, sebagian lagi hanya menonton sambil menikmati drama seperti menonton sinetron politik yang tidak pernah tamat.
Tahun 2019 menjadi salah satu bab penting. Pada periode itu, Abu Janda tampil sebagai pembela rezim yang sangat vokal.
Ia hadir hampir di setiap perdebatan politik di media sosial, seperti komentator pertandingan sepak bola yang tidak pernah kehabisan napas. Cuitannya tajam, nyaring, dan sering membuat suhu linimasa naik drastis.
Ironinya, banyak orang lupa, pria ini pernah tinggal di tiga negara Indonesia, Singapura, dan Inggris.
Globalisasi biasanya menghasilkan wawasan luas. Dalam kasus Abu Janda, globalisasi justru menghasilkan keberanian tanpa batas untuk berdebat di internet. Lalu datang plot twist berikutnya.
Pada 2023, arah dukungan politiknya berubah 180 derajat. Jika politik adalah kompas, maka kompas itu diputar seperti baling baling kipas angin.
Perubahan ini membuat sebagian orang kebingungan, sementara sebagian lain hanya mengangkat bahu sambil berkata, “Beginilah politik era algoritma.” Belum selesai sampai di situ.
Abu Janda juga pernah mengklaim dirinya sebagai anggota Banser setelah mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Dasar di Magelang.
Keanggotaan ini langsung memicu diskusi panjang. Banser dikenal dengan citra keteduhan dan moderasi, sementara karakter digital Abu Janda sering dianggap identik dengan kegaduhan.
Pihak GP Ansor pun beberapa kali harus menjelaskan kepada publik, ia hanyalah anggota biasa dan tidak mewakili organisasi.
Sejumlah tokoh bahkan menegaskan, pernyataan pernyataannya adalah tanggung jawab pribadi dan tidak mencerminkan nilai NU maupun Aswaja.
Seolah panggung X belum cukup, Abu Janda juga merambah layar televisi. Debat politik menjadi arena baru. Gayanya penuh energi.
Suara keras, interupsi cepat, dan ekspresi yang membuat suasana studio kadang kadang terasa seperti arena gladiator modern.
Puncak dramanya terjadi pada Maret 2026. Dalam sebuah acara televisi, pembawa acara Aiman Witjaksono sampai harus mengusirnya dari studio secara langsung.
Momen itu langsung viral dan beredar luas di media sosial. Bagi sebagian penonton, adegan itu terasa seperti episode reality show yang terselip di tengah program diskusi politik.
Drama lain muncul pada April 2025 ketika beredar kabar, Abu Janda akan diangkat menjadi komisaris di PT Jasamarga Tollroad Operator. Publik sempat terkejut.
Banyak yang bertanya tanya apa hubungan seorang kontroversialis media sosial dengan perusahaan pengelola jalan tol.
Permadi Arya sempat mengiakan kabar tersebut dan meminta doa. Akan tetapi pihak perusahaan segera mengeluarkan klarifikasi resmi, tidak ada pengangkatan tersebut.
Baca Juga: Opera Tolol-Goblok di Studio iNews, Sebuah Tragedi Komedi Nasional
Akhirnya, Abu Janda tetap menjadi fenomena khas zaman internet. Ia adalah produk algoritma, anak kandung budaya viral, dan bukti bahwa di era media sosial seseorang bisa menjadi sangat terkenal bukan karena prestasi akademik atau karya monumental, tetapi karena keberanian untuk terus berbicara di tengah badai komentar.
Satu pelajaran yang tersisa dari kisah ini cukup sederhana namun tajam, gelar dari Inggris tidak selalu menghasilkan kebijaksanaan, popularitas tidak selalu lahir dari ketenangan, dan di dunia digital, kadang kadang cara tercepat untuk dikenal adalah dengan menjadi badai yang tidak pernah berhenti berputar di dalam botol linimasa.
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar













