Waspada Kekurangan Cairan dan Elektrolit Berisiko Picu Gangguan Irama Jantung

Ilustrasi seseorang mengonsumsi air putih untuk mencegah risiko komplikasi penyakit akibat kekurangan cairan dan elektrolit.
Ilustrasi seseorang mengonsumsi air putih untuk mencegah risiko komplikasi penyakit akibat kekurangan cairan dan elektrolit. (Dok. Ist)

“Dalam kondisi berat, seseorang bisa mengalami pusing, kebingungan, hingga detak jantung cepat,” tulis laporan tersebut menjelaskan tingkat bahaya dari dehidrasi lanjutan.

Selain masalah volume cairan, ketidakseimbangan elektrolit di dalam tubuh juga memberikan dampak medis yang tidak kalah berbahaya.

Penurunan kadar natrium yang terlalu drastis, atau yang secara medis dikenal sebagai hiponatremia, dapat menyebabkan penderita mengalami mual, kram otot, dan gangguan tingkat kesadaran.

Sementara itu, kondisi kekurangan kalium atau hipokalemia berpotensi memicu kelemahan fungsi otot hingga mengganggu ritme atau irama jantung secara fatal.

Berbagai kondisi medis ini umumnya terjadi sebagai akibat dari pengeluaran keringat berlebih, riwayat diare, muntah, aktivitas fisik yang terlalu intens, atau minimnya asupan mineral harian.

Baca Juga: Rahasia Tubuh Bugar: Apa yang Terjadi pada Fisikmu Saat Konsisten Tidur Siang?

Kelompok lanjut usia dan penderita penyakit kronis memiliki risiko yang jauh lebih tinggi karena sensor rasa haus pada tubuh mereka sering kali mengalami penurunan fungsi sehingga dehidrasi tidak disadari.

Di sisi lain, mengonsumsi air putih dalam jumlah yang terlalu banyak juga bukan merupakan solusi yang tepat.

Asupan cairan berlebihan tanpa diimbangi dengan asupan garam yang cukup justru dapat menurunkan kadar natrium dalam darah dan memicu terjadinya hiponatremia.

Meskipun kasus ini tergolong jarang terjadi, dampaknya sangat berbahaya jika tidak segera mendapatkan penanganan medis.

Konsumsi suplemen elektrolit secara berlebihan juga membawa risiko tersendiri, di mana kelebihan natrium dapat memicu lonjakan tekanan darah dan kelebihan kalium berisiko mengganggu kerja organ jantung.

Merujuk pada pedoman Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), cara paling sederhana untuk memantau status hidrasi harian adalah melalui observasi warna urine.

Warna urine kuning pucat umumnya menjadi indikator bahwa tubuh telah terhidrasi dengan cukup.

Sebaliknya, warna urine yang terlalu bening bisa mengindikasikan kelebihan asupan cairan, sementara warna yang gelap menjadi sinyal kuat bahwa tubuh sedang mengalami dehidrasi.

Oleh karena itu, menjaga ritme hidrasi sangatlah penting. Masyarakat diimbau untuk lebih peka dalam memperhatikan sinyal alami tubuh serta mengatur proporsi air dan mineral secara seimbang sepanjang hari demi stabilitas kesehatan.

(Natash)