Faktakalbar.id, JAKARTA – Sebuah jaringan TPPO jual beli bayi berskala nasional yang beroperasi melalui media sosial berhasil dibongkar di Jakarta pada Rabu (25/2/2026).
Sindikat perdagangan manusia ini menjalankan aksinya dengan modus menawarkan adopsi ilegal dan memalsukan dokumen kelahiran serta identitas korban untuk mengelabui hukum.
Baca Juga: Sindikat Perdagangan Manusia Internasional Terungkap di Pontianak, Dua Pelaku Ditangkap
Jaringan kejahatan ini diketahui telah beroperasi sejak tahun 2024 dengan jangkauan wilayah peredaran yang sangat luas, meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Bali, hingga Papua. Dalam praktiknya, sindikat ini sangat terorganisir dan secara miris melibatkan pihak keluarga korban.
Dari total 12 orang tersangka yang telah ditetapkan, delapan di antaranya berperan sebagai perantara atau calo, sementara empat tersangka lainnya merupakan orang tua kandung dari bayi yang diperjualbelikan.
Direktur Tindak Pidana PPA dan PPO Bareskrim Polri, Nurul Azizah, memaparkan bagaimana sindikat ini meraup keuntungan finansial dari setiap transaksi.
Modus utama yang digunakan para pelaku adalah mencari mangsa atau pembeli melalui platform digital populer seperti TikTok dan Facebook dengan kedok adopsi anak.
“Kami telah menetapkan 12 tersangka, terdiri dari delapan perantara dan empat orang tua kandung. Jaringan ini beroperasi di banyak wilayah, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan hingga Bali dan Papua, dengan keuntungan ratusan juta rupiah,” jelas Nurul.
Terungkapnya jaringan TPPO jual beli bayi ini bermula dari hasil pengembangan kasus penculikan anak di Makassar. Dalam menjalankan bisnis gelapnya, pelaku menyertakan dokumen identitas bayi yang telah dipalsukan kepada pembeli.
Dari tangan sindikat ini, disita barang bukti berupa 21 unit ponsel, 17 kartu ATM, 74 dokumen palsu, serta berbagai perlengkapan bayi. Sebanyak tujuh bayi berhasil diselamatkan dari rantai perdagangan ini.
Wakabareskrim Polri, Nunung Syaifuddin, menegaskan besarnya skala kejahatan sindikat ini yang memakan korban jiwa kelompok paling rentan.
















