OPINI – Kalau Ramadan itu olimpiade ibadah, tarawih jelas cabang paling dramatis. Ada yang model sprint 100 meter. Ada yang ultra marathon, dan yang paling banyak? Joging santai sambil senyum-senyum spiritual.
Kita mulai dari yang normal dulu jak. Di masjid-masjid dari kampung sampai kota besar macam Jakarta, bahkan di Masjid Istiqlal, sampai Masjid Raya Sheikh Zayed di Surakarta, durasi tarawih 20 rakaat + 3 witir (23 rakaat) itu rata-rata 45 menit sampai 1 jam.
Kalau 8–11 rakaat? 30–45 menit sudah salam. Jam 8-9 malam sudah di rumah. Masih sempat rebahan, buka TikTok, sambil update status, “MasyaAllah, khusyuk banget malam ini,” padahal tadi sempat ngitung kipas angin berapa biji.
Nah, sekarang masuk zona ekstrem.
Baca Juga: Belajar di Masjid Terapung: Siswa TK Sukadana Praktik Shalat Dhuha dan Maknai Isra Mi’raj
Pertama, Kubu Tarawih Kilat, 13 Menit Sudah Witir
Di Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Blitar, tradisi ini sudah ada sejak 1907. Nuan bayangkan, itu zaman kakek buyut kita masih pakai lampu minyak. Sampai sekarang, 23 rakaat di sana standar 13 menit. Kadang turun ke 10 menit. Pernah juga 7 menit kalau imamnya lagi stamina prime, mungkin habis minum madu plus kurma tiga kilo.
Tujuh menit, wak. Itu lebih cepat dari kita milih filter Instagram.
Hebatnya, ribuan jemaah datang tiap Ramadan. Masjid penuh sesak. Petani yang siangnya habis ngurus sawah senang betul. “Cepat kali lek, bisa langsung bobok.”
Thuma’ninah? Kata pihak sana, ada. Rukun terpenuhi. Sah. Cuma kalau kita yang biasa 1 jam ikut, rasanya kayak salat di dalam blender. Belum sempat mikir arti ayat, sudah rukuk. Belum stabil di rukuk, sudah sujud. Ini bukan fast and furious, ini furious and furious.
Kalau tarawih biasa itu 1x speed, di sini minimal 4x playback. Malaikat pencatat amal mungkin sampai garuk kepala, “Eh, ini sudah witir? Serius?”
Kedua, Kubu Tarawih Marathon, 8 Jam Berdiri
Sekarang kita geser ke ujung spektrum lain. Di Pondok Pesantren Al-Fatah Temboro, Magetan, juga beberapa masjid di Pekanbaru dan Semarang, ada yang baca satu juz dalam satu rakaat. Total durasi bisa 8 jam atau lebih. Mulai sekitar jam 7 malam, selesai menjelang sahur jam 3 pagi.
Delapan jam, wak. Itu bukan tarawih lagi. Itu shift kerja spiritual. Hebatnya, jemaah tetap ramai.
Orang lain sudah pulang, sudah makan kolak, sudah debat politik di grup WhatsApp keluarga, mereka masih berdiri baca ayat demi ayat. Kaki bergetar, punggung protes, tapi hati katanya adem luar biasa.
Yang kubu kilat mungkin nyeletuk, “Itu tarawih apa camping di masjid?”
Yang kubu marathon balas, “Itu salat apa kejar setoran biar cepat pulang?”
Indonesia memang ajaib. Di satu negeri yang sama, ada yang 7 menit sudah salam, ada yang 8 jam baru witir. Satu kayak roket SpaceX, satu kayak perjalanan haji jalan kaki.
Tapi jujur jak, yang paling banyak tetap yang 45 menit–1 jam. Tidak terlalu ngebut sampai lutut bingung, tidak terlalu lama sampai sandal ketinggalan bentuk. Bacaan cukup, rukuk stabil, sujud tenang, pulang masih bisa ngobrol, “Tadi imamnya enak bacanya ya.”
“Iya, pas lah. Tak cepat, tak lambat.”
Intinya, tarawih itu sunah fleksibel. Mau 8, 11, 20, atau 23 rakaat, mau kilat 7–13 menit atau marathon 8 jam, selama rukun aman dan niat lurus, sah-sah jak.
Jadi, cak… ente tim mana ni?
Tim roket 7 menit?
Tim marathon 8 jam?
Baca Juga: 4 Rekomendasi Film Ringan yang Cocok Ditonton Setelah Salat Tarawih
Atau tim moderat 1 jam yang penting pahala jalan, kaki selamat, sahur aman, dan tak perlu pijat refleksi besok paginya?
Yang penting jangan jadi tim niat tarawih, tapi nyangkut di warung kopi sampai witir lewat. Itu bukan ekstrem, itu cuma alasan dibungkus iman.
“Mau nanya, Arab, eh salah, MBG, eh salah lagi, MBS Arab Saudi salat tarawih ndak, Bang?”
“Waduh, nanya itu pula. Mungkin tarawih, kalau tak di masjidil haram, ya di istananya lah, wak.” Ups.
Oleh: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
*Disclaimer: Artikel ini merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi atau kebijakan redaksi.
















