“Kami juga memanfaatkan pompa banjir dan Bapak Wali Kota menggencarkan kegiatan gotong-royong tiap bulan di enam kecamatan. Ini menjadi bagian dari upaya jangka pendek dan menengah,” jelas Eko.
Untuk jangka panjang, Pemkot Pontianak juga memperkuat pendekatan infrastruktur hijau. Langkah ini diwujudkan lewat perluasan ruang terbuka hijau, restorasi lahan basah dan gambut, serta pengembangan area multifungsi sebagai resapan air.
Bahkan, program 100 hari kerja Wali Kota dan Wakil Wali Kota secara khusus menyoroti normalisasi saluran serta peningkatan kesadaran warga untuk tidak membuang sampah sembarangan.
Eko menambahkan, Rencana Aksi Iklim telah disusun dengan menggandeng akademisi, lembaga riset, komunitas, dan sektor swasta.
Ketangguhan kota tidak semata diukur dari proyek infrastruktur fisik, melainkan dari kesadaran kolektif warganya.
“Air adalah identitas Pontianak. Kita harus memastikan bahwa generasi mendatang tetap bisa hidup aman dan selaras dengan air. Ketangguhan kota bukan hanya soal membangun tanggul atau pompa, tetapi tentang kolaborasi pemerintah dan warga dalam menjaga akses air, kesehatan, dan masa depan kota,” pungkasnya.
(FR)
















